BENGKULU – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bhakti Husada Bengkulu bersama Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Wilayah Bengkulu memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan literasi digital dan etika pemanfaatan teknologi bagi mahasiswa. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara kedua lembaga.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun kemampuan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi informasi, khususnya dalam menyikapi arus informasi digital yang semakin cepat, termasuk tantangan penyebaran misinformasi, disinformasi, dan ujaran kebencian di ruang digital.

Penandatanganan MoU tersebut dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) STIKES Bhakti Husada Bengkulu Tahun 2026. Dalam kegiatan tersebut, MAFINDO memberikan edukasi dengan tema “Etika Penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk Mahasiswa”.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pimpinan STIKES Bhakti Husada Bengkulu, yakni Wakil Ketua I Veby Fransisca Rozi, SKM, M.Kes, Wakil Ketua II Susi Eryani, MH, dan Wakil Ketua III Miki Kurnia Fitrizah, SKM, MKM.
Dari pihak MAFINDO hadir Dewan Pengawas MAFINDO Pusat Dr. Gushevinalti, M.Si, Relawan MAFINDO Bengkulu Mika Oktarina dan Rafinita Aditya, serta pemateri kegiatan Iyud Dwi Mursito.
Wakil Ketua I STIKES Bhakti Husada Bengkulu, Veby Fransisca Rozi, SKM, M.Kes, mengatakan kerja sama tersebut merupakan langkah strategis institusi dalam memperluas jejaring kemitraan sekaligus memperkuat kapasitas mahasiswa dalam menghadapi tantangan era digital.

“Kerja sama ini merupakan wujud nyata komitmen STIKES Bhakti Husada Bengkulu dalam memperluas jejaring kemitraan strategis, khususnya dalam upaya bersama meningkatkan literasi digital, kecakapan berpikir kritis, serta ketahanan masyarakat—termasuk civitas akademika—terhadap arus informasi yang keliru seperti misinformasi, disinformasi, dan ujaran kebencian di ruang digital,” ujar Veby.
Menurut Veby, literasi informasi memiliki posisi penting bagi perguruan tinggi kesehatan karena berkaitan langsung dengan kualitas pemahaman masyarakat terhadap informasi, terutama informasi kesehatan.

“Sebagai institusi pendidikan tinggi kesehatan, kami menyadari bahwa isu literasi informasi bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat itu sendiri, terutama dalam menghadapi maraknya hoaks di bidang kesehatan yang dapat berdampak langsung pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Ia menilai kerja sama dengan MAFINDO memiliki relevansi yang kuat dalam mendukung pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, mulai dari pendidikan, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat.
“Kolaborasi dengan MAFINDO yang memiliki kapasitas, jejaring, dan pengalaman panjang dalam gerakan anti-hoaks di Indonesia menjadi sangat relevan dan strategis bagi pengembangan Tridarma Perguruan Tinggi kami,” ujar Veby.
Mahasiswa Perlu Pahami AI Secara Kritis
Ketua DPW MAFINDO Bengkulu, Fonika Thoyib, menyampaikan bahwa mahasiswa sebagai insan akademik perlu memahami perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara bijak.

Menurutnya, AI memberikan banyak manfaat dalam mendukung proses pembelajaran, mulai dari membantu mencari informasi, memahami konsep yang sulit, menghasilkan ide kreatif, mendukung penelitian, hingga membantu analisis data. Namun, penggunaan AI juga harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis agar mahasiswa tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi.
“Mahasiswa di era sekarang harus memahami AI dan menggunakannya dengan bijak sesuai kebutuhan dalam proses perkuliahan maupun membuat tugas. Namun harus diingat, AI hanya alat bantu. Kemampuan analisis dan pemikiran rasional dengan memadukan teori serta realitas lapangan tetap menjadi keharusan sebagai insan akademik,” ujar Fonika.
Sementara itu, pemateri dari MAFINDO Bengkulu, Iyud Dwi Mursito, menyampaikan materi mengenai etika penggunaan AI dengan menekankan bahwa teknologi tersebut harus digunakan secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.
Dalam pemaparannya, Iyud menjelaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran manusia dalam mengambil keputusan karena teknologi tersebut tidak memiliki kesadaran, nilai moral, dan tanggung jawab. Manusia tetap menjadi pengendali utama dalam menggunakan teknologi secara tepat.
Melalui penandatanganan MoU ini, STIKES Bhakti Husada Bengkulu dan MAFINDO Bengkulu berharap dapat membangun kerja sama berkelanjutan dalam menciptakan mahasiswa yang memiliki kecakapan digital, mampu berpikir kritis, serta bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan pelayanan kepada masyarakat. ***