IKOBENGKULU — Usaha pembuatan emping melinjo yang dijalankan Rita (55) di kawasan Lempuing, Kota Bengkulu, masih bertahan hingga saat ini. Usaha tersebut telah ditekuni Rita sejak masih gadis dan bersekolah hingga hampir 20 tahun.
Bahan baku melinjo yang digunakan diperoleh dari sejumlah daerah, termasuk Bengkulu Utara dan Enggano. Melinjo tersebut kemudian diolah melalui beberapa tahap sebelum menjadi emping yang siap dijual kepada pelanggan.
Dalam proses pembuatannya, biji melinjo terlebih dahulu disangrai menggunakan pasir yang harus dalam kondisi panas. Menurut Rita, kondisi pasir yang panas menjadi salah satu hal penting agar biji melinjo dapat diolah menjadi emping.
“Masih panas. Ini juga masaknya harus panas pasirnya tuh. Kalau dingin, tidak bisa berjalan empingnya,” ujar Rita, jumat (21/8/2026).
Setelah disangrai, biji melinjo kemudian dipipihkan hingga menjadi lembaran emping sebelum dijemur. Saat cuaca panas, proses penjemuran dapat berlangsung sekitar 15 menit hingga emping cukup kering.
Emping yang telah kering kemudian siap digoreng dan akan mengembang ketika dimasukkan ke dalam minyak panas. Rita mengatakan minyak yang digunakan harus cukup banyak dengan api kecil agar emping tidak mudah gosong.
Rita mengatakan dirinya mulai membuat emping sejak masih gadis dan bersekolah. Awalnya, ia bekerja membuat emping milik orang lain dengan sistem upah sebelum akhirnya menjalankan usaha sendiri.
“Dari Ibu masih gadis, masih sekolah, Ibu udah nokok. Dulu nokok dengan orang, upahan. Dapat sorang, dapat Ibu bikin sendiri. Usaha sendiri,” tuturnya.
Kini, emping buatan Rita dijual dalam beberapa ukuran dan kemasan. Emping berbentuk lembaran dijual sekitar Rp4.000 per ikat dengan isi 10 lembar, sedangkan harga emping mencapai Rp100.000 per kilogram.
Pelanggan biasanya datang langsung ke rumah Rita untuk memesan emping. Usaha tersebut hingga kini tetap dijalankan sebagai sumber penghasilan dan keterampilan yang telah ditekuni Rita sejak muda.
Penulis: Shabrina Putri