IKOBENGKULU – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, Win Rizal, menyampaikan perekonomian Bengkulu pada Triwulan II-2026 tumbuh sebesar 5,11 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Pertumbuhan tersebut juga diikuti dengan penurunan angka kemiskinan berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2026.
Win Rizal menjelaskan pertumbuhan ekonomi Bengkulu ditopang oleh menguatnya sektor perdagangan, konstruksi, transportasi, dan pertanian. Dari sisi kontribusi, sektor perdagangan menyumbang sekitar 31 persen terhadap perekonomian daerah, sedangkan sektor pertanian berkontribusi sekitar 28 persen.
Menurutnya, meningkatnya permintaan komoditas unggulan seperti kelapa sawit dan kopi menjadi salah satu faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi. Produksi kopi meningkat setelah harga kembali stabil, sementara produksi kelapa sawit kembali naik seiring berakhirnya musim trek atau periode produksi rendah.
Pertumbuhan juga didorong oleh meningkatnya permintaan hewan ternak menjelang Hari Raya Iduladha serta tingginya kebutuhan bahan pokok dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Permintaan telur, ayam potong, dan hasil perikanan budidaya seperti ikan lele turut memberikan kontribusi terhadap aktivitas ekonomi daerah.
Di sisi lain, lapangan usaha administrasi pemerintahan tumbuh 4,92 persen. Kondisi ini dipengaruhi pencairan gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN) serta pembayaran gaji bagi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K) yang baru diangkat.
Win Rizal mengatakan seluruh komponen pengeluaran dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) juga mencatatkan pertumbuhan positif. Konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dengan pangsa 59,48 persen dan tumbuh 5,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan konsumsi rumah tangga didukung pencairan gaji ke-13 ASN dan P3K, momen libur sekolah, serta kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) Bengkulu dari Rp2,67 juta menjadi Rp2,83 juta pada 2026. Selain itu, peningkatan transaksi uang elektronik dan kredit konsumsi ikut memperkuat daya beli masyarakat.
Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,01 persen dengan pangsa 32,77 persen. Pertumbuhan ini didorong percepatan pembangunan berbagai proyek fisik seperti jalan, jembatan, Sekolah Rakyat, dan revitalisasi Danau Dendam Tak Sudah.
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 13,58 persen dengan pangsa 17,48 persen dan konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) meningkat 8,21 persen dengan pangsa 2,5 persen. Di sisi perdagangan luar daerah, ekspor tumbuh 3,87 persen sedangkan impor meningkat 4,38 persen.
Secara regional, pertumbuhan ekonomi Bengkulu sebesar 5,11 persen menempati peringkat keempat tertinggi di Pulau Sumatra. Bengkulu berada di bawah Kepulauan Riau sebesar 6,99 persen, Lampung 5,29 persen, dan Sumatra Selatan 5,20 persen, serta melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi Sumatra yang mencapai 5,06 persen.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan di Bengkulu juga menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan Susenas Maret 2026, persentase penduduk miskin tercatat 11,83 persen atau turun 0,05 poin persentase dibandingkan Maret 2025.
Secara absolut, jumlah penduduk miskin di Bengkulu mencapai 250.110 orang atau berkurang sekitar 82 orang dibandingkan September 2025. Pengukuran kemiskinan tersebut menggunakan pendekatan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang meliputi kebutuhan makanan dan nonmakanan.
Win Rizal menjelaskan penurunan angka kemiskinan didukung sejumlah indikator sosial ekonomi yang membaik. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel pada Maret 2026 mencapai 40,08 persen atau naik 1,16 persen dibanding bulan sebelumnya, sedangkan TPK hotel berbintang mencapai 17,91 persen atau meningkat 2,73 poin.
Selain itu, laju inflasi Bengkulu pada Maret 2026 tetap terkendali di level 2,85 persen secara tahunan. Namun, Nilai Tukar Petani (NTP) turun 4,79 poin dan Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) turun 2,22 poin dibandingkan September 2025.
Meski mengalami penurunan, persentase kemiskinan Bengkulu sebesar 11,83 persen masih menjadi yang tertinggi kedua di Pulau Sumatra setelah Aceh yang mencapai 12,34 persen. Win Rizal berharap berbagai program pengentasan kemiskinan terus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi dapat memberikan manfaat yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Bengkulu.
Penulis : Raihan Fitra Nolisca