?BENGKULU — Olahraga bela diri Muay Thai kini semakin populer dan digandrungi oleh berbagai kalangan masyarakat. Tidak hanya sekadar seni bertarung untuk perlindungan diri, olahraga asal Negeri Gajah Putih ini telah bertransformasi menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang efektif untuk menjaga kebugaran hingga menurunkan berat badan.
Muay Thai sendiri dikenal luas dengan sebutan "Seni Delapan Tungkai". Istilah ini merujuk pada pemaksimalan delapan titik tubuh sebagai senjata utama, yaitu dua kepalan tangan, dua siku (elbow), dua lutut, dan dua kaki. Untuk bisa menguasainya, seorang praktisi wajib mendalami beberapa teknik dasar krusial seperti jab, straight, hook, serangan siku, serangan lutut, serta berbagai variasi teknik tendangan.
?Perjalanan dan esensi dari bela diri ini dibagikan oleh salah satu Coach yang juga merupakan atlet Muay Thai pertama perwakilan Bengkulu. Ia mengawali langkahnya di dunia bela diri sejak masa kecil pada kisaran tahun 2007 atau 2010.
Setelah bertahun-tahun menempa diri, ia akhirnya resmi memulai debut bertandingnya sebagai atlet profesional pada tahun 2014, yang membawanya hingga ke Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Muay Thai Indonesia di Sentul, Senayan. Bagi sang pelatih, sosok yang paling menginspirasinya di dunia Muay Thai adalah ayahnya sendiri, yakni Master Dedy Armansyah, yang juga bertindak sebagai mentor utamanya.
Alasan terbesar sang Coach menekuni Muay Thai dibandingkan cabang bela diri lainnya adalah karena sifatnya yang merupakan pertarungan nyata (real fight). Teknik-teknik di dalamnya dinilai sangat aplikatif dan efektif untuk perlindungan diri di jalanan. Selain aspek fisik, olahraga ini juga menekankan pentingnya kedisiplinan tinggi, sebuah nilai yang dipercaya dapat membentuk karakter positif di segala lini kehidupan.
?Bagi masyarakat yang tertarik untuk memulai latihan, olahraga ini sebenarnya sangat inklusif. Latihan dapat diikuti oleh siapa saja tanpa memandang batasan usia maupun gender. Perlengkapan awal yang dibutuhkan pun cukup sederhana, yakni pakaian olahraga yang nyaman dan pelindung tangan (glove tinju), yang nantinya dapat dilengkapi dengan gumshield serta pelindung kaki.
?Untuk memulai, latihan dapat dilakukan di Bengkulu Infight Camp yang berlokasi di Sawah Lebar, Kota Bengkulu, tepatnya di Komplek Stadion Sepak Bola Sawah Lebar. Sang pelatih menegaskan bahwa tidak ada batasan waktu atau durasi khusus untuk bisa mahir, karena sejatinya setiap praktisi—bahkan yang sudah mencapai level juara dunia di stadion besar seperti Lumpinee atau Rajadamnern di Thailand—akan selalu terus belajar. Kuncinya terletak pada konsistensi, mengikuti arahan pelatih yang kompeten, serta kecerdasan dalam mengukur kemampuan diri sendiri tanpa memaksakan diri secara berlebihan.
Penulis : Raihan Fitra Nolisca