BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50 Persen, Bengkulu Pacu Ekspor Hortikultura demi Jinakkan Dolar

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:33:00 WIB
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat saat Bincang Bareng Media (BBM), Selasa (10/6/2026)/ foto: dok)

BENGKULU – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertegas kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen, dari yang sebelumnya sebesar 5,25 persen. Langkah antisipatif ini diambil sebagai benteng moneter demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus dihantam badai ketidakpastian ekonomi global.

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengungkapkan bahwa kebijakan pengetatan ini menjadi langkah krusial untuk meredam risiko inflasi akibat gejolak eksternal (imported inflation). Saat ini, persaingan global dalam memperebutkan arus modal asing (capital inflow) kian sengit menyusul tren suku bunga tinggi di berbagai negara maju.

“Stabilitas nilai tukar menjadi kunci. Instrumen keuangan domestik harus tetap kompetitif agar aliran modal tidak berbalik arah keluar (capital outflow), sehingga tekanan terhadap rupiah bisa kita kendalikan,” ujar Wahyu di Bengkulu saat Bincang Bareng Media (BBM) di Megal Mall, Selasa (9/6/2026). 

Multi-Tekanan: Dari Geopolitik hingga Dividen

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat saat Bincang Bareng Media (BBM), Selasa (10/6/2026)/ foto: dok)

Wahyu tidak menampik bahwa otot rupiah sedang diuji oleh lonjakan permintaan dolar Amerika Serikat (AS) secara simultan dari berbagai sektor. Di pasar global, tensi geopolitik yang tak kunjung mereda telah memicu kenaikan harga energi dunia, yang otomatis menguras devisa.

Sementara dari dalam negeri, tekanan musiman mencapai puncaknya seiring tingginya kebutuhan valuta asing untuk pembayaran dividen kepada investor asing serta pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.

Jika rupiah dibiarkan melemah tak terkendali, hantu imported inflation siap mengancam. Harga bahan baku impor yang membubung berpotensi mengerek biaya produksi industri nasional dan bermuara pada runtuhnya daya beli konsumen akibat lonjakan harga barang jadi. Oleh sebab itu, BI bersikeras mematok target inflasi nasional tetap berada di jangkar aman, yakni 2,5%  dengan rentan kendali plus minus 1 %.

Peluang Emas Hortikultura Bengkulu

Menariknya, di tengah himpitan makroekonomi tersebut, Bumi Rafflesia justru mengintip peluang emas. Melemahnya nilai tukar rupiah harus dimanfaatkan Bengkulu untuk menggenjot otot ekspor, khususnya pada sektor hortikultura yang menjadi komoditas unggulan daerah. Kenaikan volume ekspor ini diharapkan mampu menjadi mesin baru penghasil devisa sekaligus motor penggerak ekonomi lokal.

Optimisme ini didukung oleh potret inflasi daerah yang relatif jinak. Pada Mei 2026, inflasi Provinsi Bengkulu tercatat sebesar 0,86 persen (month-to-month). Meski sempat terkerek oleh lonjakan harga kelompok pangan bergejolak (volatile food) seperti cabai, BI memproyeksikan tensi inflasi akan melandai pada Juni ini.

“Kami melihat harga-harga di pasar mulai stabil seiring perbaikan pasokan dan kelancaran distribusi pangan. Tekanan inflasi bulan ini diperkirakan lebih rendah,” imbuh Wahyu.

Menjaga Keseimbangan Ekuilibrium

Pada akhirnya, BI menegaskan bahwa menakhodai nilai tukar adalah soal menjaga ekuilibrium (keseimbangan). Rupiah yang terdepresiasi terlalu dalam akan memukul daya beli masyarakat, namun penguatan yang terlalu tajam juga bisa mematikan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar internasional.

Untuk itu, bank sentral memastikan tidak hanya mengandalkan instrumen suku bunga. Strategi bauran moneter tetap dijalankan secara agresif melalui:

  • Optimalisasi dan penguatan cadangan devisa.
  • Intervensi ganda (dual intervention) di pasar spot dan DNDF.
  • Sinergi erat dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Lewat bauran strategi ini, stabilitas ekonomi makro dan daerah diharapkan tetap kokoh, sekaligus menjaga kepercayaan investor untuk tetap memarkirkan modalnya di Indonesia. ***

Tags

Terkini