Masuk ke Desa-Desa, DPPKBP3A Kepahiang Gencarkan Sosialisasi 'Aksi Cegah vs Obati' Stunting

Rabu, 25 Maret 2026 | 12:00:00 WIB
Kepala DPPKBP3A Kabupaten Kepahiang, Linda Rospita, MH

KEPAHIANG – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Kepahiang kian gencar turun ke akar rumput. Memasuki pertengahan tahun 2026, DPPKBP3A menginstruksikan seluruh lini lapangan untuk menggedor desa-desa guna menyosialisasikan panduan taktis penanganan stunting secara mandiri di tingkat keluarga.

Sosialisasi masif ini sengaja menyasar para pasangan muda, ibu hamil, dan kader posyandu di 117 desa/kelurahan, demi mengejar target akselerasi zero stunting di Kabupaten Kepahiang.

Kepala DPPKBP3A Kabupaten Kepahiang, Linda Rospita, MH, menegaskan bahwa sosialisasi kali ini tidak lagi sekadar membagikan brosur normatif, melainkan membedah secara konkret formula "Gempur dari Hulu ke Hilir" agar masyarakat paham aspek pencegahan sekaligus langkah pengobatan medis.

"Mencegah stunting itu adalah investasi masa depan. Sosialisasi ini kami gencarkan agar setiap keluarga di Kepahiang memiliki literasi gizi yang matang. Masyarakat harus tahu apa saja pemicunya, bagaimana mencegahnya sejak hamil, dan apa yang harus dilakukan jika anak terlanjur terindikasi stunting," tegas Linda,.

Kupas Tuntas 7 Faktor Pemicu Stunting

Dalam setiap forum sosialisasi di tingkat desa, tim lapangan DPPKBP3A memetakan tujuh faktor risiko utama yang wajib diantisipasi oleh para orang tua:

  • Krisis Keragaman Pangan: Rendahnya asupan vitamin, mineral, dan protein hewani.
  • Siklus Malnutrisi Ibu: Kondisi kurang gizi sejak ibu berusia remaja, masa kehamilan, hingga menyusui.
  • Buruknya Infrastruktur Sanitasi: Terbatasnya akses air bersih dan toilet layak di lingkungan rumah.
  • Minimnya Stimulasi Psikososial: Kurangnya pola asuh interaktif yang merangsang motorik anak.
  • Kondisi Sosio-Ekonomi: Pengaruh pendapatan, jumlah anggota keluarga, dan minimnya literasi gizi.
  • Faktor Medis Bawaan: Kelainan sejak lahir pada anak seperti Penyakit Jantung Bawaan atau Thalasemia.
  • Infeksi Kronis Berulang: Anak rentan terkena diare atau TBC akibat lingkungan kotor dan abai imunisasi.

Edukasi 6 Langkah Emas Pencegahan

Sebagai langkah preventif di hulu, materi sosialisasi menekankan penguatan pada enam langkah emas yang bisa dipraktikkan langsung di rumah tangga:

  • Nutrisi Ibu Hamil: Memastikan konsumsi gizi seimbang dan pemenuhan zat besi harian selama masa mengandung.
  • ASI Eksklusif: Mengawal pemberian ASI secara mutlak tanpa makanan tambahan hingga bayi berusia 6 bulan.
  • MPASI Gizi Seimbang: Pemberian Makanan Pendamping ASI yang kaya protein hewani setelah anak berusia di atas 6 bulan.
  • Disiplin ke Posyandu: Rutin menimbang dan mengukur tinggi badan balita setiap bulan untuk memantau kurva pertumbuhan.
  • Akses Air Bersih: Menjamin kualitas air konsumsi keluarga benar-benar higienis.
  • Higienitas Domestik: Menjaga kebersihan total lingkungan tempat tinggal untuk memutus penularan kuman.

Panduan 5 Strategi Pengobatan di Hilir

Tidak hanya bicara pencegahan, dalam sosialisasi ini DPPKBP3A juga memberikan tips kuratif (pengobatan) terpadu bagi orang tua jika anak di lingkungannya sudah terlanjur mengalami stunting.

Langkah pengobatan medis tersebut meliputi terapi penyakit penyerta (seperti menyembuhkan infeksi atau TBC), intervensi nutrisi kejar (catch-up) dengan makanan padat kalori dan protein, serta guyur suplemen mikro (Vitamin A, zinc, zat besi, kalsium) di bawah pengawasan tenaga kesehatan. Strategi ini wajib ditutup dengan perbaikan sanitasi dan sterilisasi lingkungan tempat tinggal.

Agenda sosialisasi skala besar ini digerakkan secara berkesinambungan oleh 399 personel tim pendamping keluarga di lapangan, dengan memanfaatkan momentum kolaborasi lintas sektor lewat Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).

"Prinsipnya, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Melalui sosialisasi yang menyentuh ruang-ruang keluarga di desa ini, kami optimistis kesadaran kolektif warga akan mengunci angka stunting di Kepahiang ke level terendah," pungkas Linda.  (adv)

Terkini