Media Sosial Bukan Tempat yang Tepat untuk Mendiagnosis Kesehatan Mental

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:06:23 WIB
Media Sosial (foto: Pinterest)


Oleh: Naura Amalia Az-Zahra (Mahasiswa S1 Jurnalistik Universitas Bengkulu)


Saat sedang menggunakan media sosial seperti aplikasi Tiktok, Instagram, atau X, kemudian menemukan konten yang membahas tentang gangguan kesehatan mental. Isinya biasanya sederhana, seperti mengaitkan kebiasaan sulit tidur, suasana hati yang cepat berubah, atau suka menyendiri dengan gangguan kejiwaan tertentu. Tak sedikit dari remaja yang menuliskan validasinya di kolom komentar, banyak dari mereka yang berkata " Ini sangat menggambarkan kondisi saya saat ini." atau "Akhirnya aku tahu kenapa aku sering sedih belakangan ini." Fenomena maraknya konten yang membahas mental health (kesehatan mental) di sosial media memang bagus untuk meningkatkan kepedulian. Namun di sisi lain, tren ini membuat topik kesehatan mental terkesan "sederhana", sehingga banyak orang dengan mudah memberi label gangguan jiwa pada diri mereka sendiri
Meningkatnya kesadaran publik terhadap kesehatan mental tentu merupakan hal positif. Namun, kemudahan mendapatkan informasi di internet sering kali memicu pola pikir yang keliru, masyarakat merasa bisa mendiagnosis kondisi kejiwaan sendiri hanya bermodalkan video berdurasi 30 detik. Pada kenyataannya, meyakini diri sendiri mengidap gangguan mental hanya melalui media sosial atau yang dikenal dengan istilah self-diagnosis adalah sebuah kemustahilan medis yang fatal. Tindakan ini tidak hanya salah arah, tetapi juga menyimpan bahaya nyata yang mampu mengancam keselamatan psikologis dan fisik individu yang bersangkutan.
Secara medis, gangguan jiwa tidak sesederhana itu untuk kita pahami makanya kita tidak bisa sembarangan melakukan self-diagnosis. Perlu diketahui penyakit mental adalah kondisi klinis kompleks yang melibatkan patologi saraf otak, faktor genetik, lingkungan, dan trauma masa lalu. Konten media sosial sering kali melakukan penyerdehanaan informasi penting demi mengejar tayangan. Sebagai contoh, perasaan sedih karena patah hati atau hari yang buruk langsung dilabeli sebagai Depresi Clinical. Sifat seseorang yang menyukai kerapian diidentifikasi sebagai OCD (Obsessive-Compulsive Disorder), dan perubahan suasana hati remaja yang wajar akibat fluktuasi hormon dicap sebagai gangguan Bipolar. Penyederhanaan ini sangat menyesatkan.
Dampak buruk dari kedangkalan informasi ini bisa berakibat fatal yang terbagi menjadi dua risiko besar yaitu over-diagnosis dan under-diagnosis. Pada kasus over-diagnosis, seseorang akan mengalami kepanikan, kecemasan berlebihan, dan stres baru karena mengira dirinya mengidap gangguan jiwa berat, padahal ia hanya mengalami tekanan emosional sementara. Sebaliknya, pada under-diagnosis, seseorang mungkin mengabaikan penyakit nyata yang sebenarnya berbahaya karena merasa gejalanya "ringan" atau mirip dengan apa yang dibilang konten kreator di internet, sehingga ia kehilangan kesempatan untuk disembuhkan lebih cepat.
Lebih jauh lagi, self-diagnosis mendorong tindakan nekat berupa self-medication (pengobatan mandiri). Tidak sedikit remaja yang mencoba membeli obat-obatan penenang secara ilegal atau mempraktikkan tips terapi alternatif yang mereka temukan di internet tanpa pengawasan medis. Hal ini sangat berbahaya karena konsumsi obat yang salah justru dapat merusak keseimbangan kimia di otak secara permanen. Selain itu, melabeli diri sendiri dengan gangguan mental (creating self-stigma) justru akan menunda seseorang untuk datang ke fasilitas kesehatan yang sebenarnya. Mereka merasa sudah "paham" penyakitnya, sehingga mengabaikan peran penting psikolog atau psikiater yang asli.
Oleh karena itu, perlu ditegaskan kembali bahwa algoritma media sosial dirancang untuk memancing interaksi dan keterikatan emosional, bukan untuk menegakkan diagnosis medis yang akurat. Mustahil bagi kita untuk mengetahui kondisi kejiwaan yang sebenarnya hanya dari video yang dibuat untuk ditonton jutaan orang secara massal. Setiap individu memiliki keunikan latar belakang psikologis dan fisik yang tidak bisa disamaratakan oleh video pendek yang ditonton oleh jutaan orang secara masal. Menentukan apakah seseorang mengalami gangguan mental atau tidak membutuhkan proses panjang melalui wawancara klinis, observasi perilaku, dan tes psikologi yang hanya legal dilakukan oleh ahlinya.
Mari kita tempatkan media sosial pada fungsi yang tepat dalam isu ini, yaitu hanya sebagai sarana edukasi awal untuk meningkatkan awareness (kewaspadaan), bukan sebagai penentu atau vonis medis. Sebagai panduan praktis, jika Anda merasakan perubahan emosi yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari (seperti tidak bisa fokus belajar atau bekerja) dan kondisi itu berlangsung terus-menerus selama lebih dari dua minggu, itu adalah pertanda bagi Anda untuk mencari bantuan. Tinggalkan kolom komentar media sosial dan segera melakukan konseling pada ahlinya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater ruang konseling. Singkirkan rasa takut atau stigma negatif untuk pergi ke profesional, karena penanganan yang tepat selalu dimulai dari diagnosis yang benar, bukan dari asumsi dunia maya. ***

Terkini