Buka ICSOPOLIS 2026, Rektor UNIB Soroti Dampak AI terhadap Kehidupan Manusia

Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:57:00 WIB
Rektor UNIB, Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P., M.Si., bersama Dekan FISIP UNIB, Prof. Dr. Sugeng Suharto, M.M., M.Si., Ketua Panitia Dr. Alfarabi, S.Sos., M.Si., serta para pembicara dan peserta berfoto bersama seusai pembukaan konferensi internasional I

BENGKULU – Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Namun, kemajuan teknologi tidak boleh mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial, dan pemerataan pembangunan.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Bengkulu (UNIB), Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P., M.Si., saat membuka International Conference on Social and Political Sciences (ICSOPOLIS) 2026 di Hotel Mercure Bengkulu, Rabu (28/10/2026).

Konferensi internasional yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNIB itu mengangkat tema Challenges and Opportunities in Society 5.0 dengan melibatkan peneliti dari 11 negara serta 48 perguruan tinggi dan lembaga riset.

Rektor Universitas Bengkulu (UNIB), Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P., M.Si., menyampaikan sambutan saat membuka konferensi internasional ICSOPOLIS 2026 di Hotel Mercure Bengkulu, Rabu (28/10/2026).

“Tema konferensi tahun ini, ‘Challenges and Opportunities in Society 5.0’, mengingatkan kita pada satu hal penting: secanggih apa pun teknologi, manusia tetap harus berada di pusatnya,” ujar Indra dalam sambutannya.

Menurutnya, perkembangan AI, big data, dan transformasi digital membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru yang harus dijawab melalui penelitian dan inovasi.

Kemajuan teknologi, kata dia, harus diarahkan untuk mengatasi persoalan sosial, memperkuat pelayanan publik, dan mendorong pembangunan yang lebih merata.

“Teknologi seharusnya hadir untuk memuliakan manusia, memperkuat keadilan sosial, dan membuka jalan bagi pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” tegasnya.

Riset Harus Menjawab Persoalan Masyarakat

Indra menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan perkembangan teknologi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Karena itu, penelitian yang dilakukan akademisi tidak cukup hanya menghasilkan publikasi ilmiah. Hasil riset juga harus mampu memberikan solusi terhadap persoalan sosial, ekonomi, politik, dan pembangunan.

“Bagi kami, keberhasilan universitas tidak hanya diukur dari jumlah publikasi atau posisi dalam pemeringkatan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana ilmu yang kami kembangkan mampu menjawab tantangan zaman, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan melahirkan kebijakan serta inovasi yang bermanfaat,” katanya.

Menurut Indra, semangat tersebut sejalan dengan komitmen UNIB dalam mengembangkan konsep Kampus Berdampak.

Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, perguruan tinggi diharapkan mampu menghadirkan inovasi yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

Dia juga menekankan pentingnya kerja sama antarakademisi, perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadapi tantangan di era Society 5.0.

“ICSOPOLIS bukan sekadar agenda akademik tahunan. Ia mencerminkan komitmen kami untuk memperkuat budaya riset, meningkatkan mutu publikasi ilmiah, membuka kolaborasi seluas-luasnya dengan dunia internasional, dan menghadirkan perguruan tinggi yang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ungkapnya.

Peneliti dari 11 Negara Bertemu di Bengkulu

ICSOPOLIS 2026 menjadi wadah pertukaran gagasan akademik yang mempertemukan peneliti dari berbagai negara.

Peserta konferensi berasal dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, Timor-Leste, Thailand, Taiwan, Tiongkok, Pakistan, India, Turki, dan Australia.

Selain menghadirkan peserta dari 48 perguruan tinggi dan lembaga riset, konferensi tersebut juga menghadirkan pembicara utama dari Australia, Thailand, Hong Kong, dan Timor-Leste.

Dekan FISIP UNIB, Prof. Dr. Sugeng Suharto, M.M., M.Si., turut memberikan sambutan dalam pembukaan kegiatan tersebut.

"Melalui forum internasional ini, FISIP UNIB berupaya memperluas jejaring akademik sekaligus memperkuat kontribusi penelitian ilmu sosial dan politik dalam menghadapi perubahan masyarakat.' katanya.

Hasil Penelitian Akan Dibukukan

Rektor Universitas Bengkulu (UNIB), Prof. Dr. Indra Cahyadinata, S.P., M.Si., bersama Dekan FISIP UNIB, Prof. Dr. Sugeng Suharto, M.M., M.Si., Ketua Panitia Dr. Alfarabi, S.Sos., M.A. foto bersama

Sementara itu, Ketua Panitia ICSOPOLIS 2026, Dr. Alfarabi, S.Sos., M.A., menjelaskan bahwa konferensi tersebut tidak hanya menjadi forum presentasi penelitian, tetapi juga diharapkan membuka peluang kolaborasi akademik jangka panjang.

“Kegiatan ini pertama ada harapannya itu ada kolaborasi antara para peneliti di Bengkulu dengan para peneliti di seluruh Indonesia bahkan di dunia internasional,” ujar Alfarabi.

Menurutnya, kerja sama tersebut dapat dikembangkan melalui penelitian bersama maupun program pengabdian kepada masyarakat.

Beragam penelitian yang dipresentasikan dalam ICSOPOLIS 2026 mencakup bidang komunikasi, jurnalistik, kesejahteraan sosial, sosiologi, hingga administrasi publik.

Kajian dari berbagai disiplin ilmu itu diharapkan memberikan perspektif yang lebih luas dalam memahami tantangan masyarakat akibat perkembangan teknologi.

Alfarabi menambahkan, seluruh karya ilmiah yang dipresentasikan dalam konferensi tersebut direncanakan dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk book chapter.

“Oh ya, luaran dari konferensi ini adalah book chapter ya. Kita akan membukukan semua tulisan-tulisan tersebut,” katanya.

Buku hasil konferensi itu nantinya akan dibagikan kepada para pemakalah. Panitia juga berencana membuka akses bagi masyarakat agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

“Sisanya kita akan berikan akses kepada siapa pun agar bisa membaca hasil-hasil penelitian ini. Karena sayang sekali kalau ini tidak dibaca oleh masyarakat secara umum,” jelas Alfarabi. ***

Terkini