BENGKULU – Komunikasi tidak selalu harus menggunakan suara. Gerakan tangan, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan dan membangun pemahaman. Hal tersebut menjadi pengalaman yang dipelajari mahasiswa Ilmu Komunikasi melalui kegiatan kolaboratif bersama Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (GERKATIN) Bengkulu.
Kegiatan ini melibatkan dua mahasiswa Ilmu Komunikasi, Elisabeth Erdwiana dan Dwiki Ilham Rizki Ramadhan, bersama Nurul Fadillah M., Sekretaris GERKATIN Bengkulu. Pertemuan tersebut menjadi ruang belajar bersama untuk mengenal bahasa isyarat sekaligus memahami pentingnya komunikasi yang inklusif bagi masyarakat Tuli.
Dalam suasana yang santai dan interaktif, mahasiswa berkesempatan mempelajari dasar-dasar bahasa isyarat secara langsung bersama anggota komunitas Tuli. Salah satu materi awal yang dipelajari adalah cara memperkenalkan diri menggunakan bahasa isyarat, dengan memperhatikan gerakan tangan, ekspresi wajah, serta ketepatan penyampaian makna.
Bagi mahasiswa, proses ini memberikan pengalaman berbeda dari pembelajaran di ruang kelas. Mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga mencoba berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dan memahami bagaimana pesan disampaikan melalui bentuk komunikasi tersebut.
Kegiatan yang telah memasuki pertemuan kedua ini tidak hanya berfokus pada pengenalan bahasa isyarat. Mahasiswa dan komunitas Tuli juga membangun interaksi serta mendiskusikan berbagai gagasan untuk mengembangkan kegiatan bersama ke depannya.
Dalam proses komunikasi, dua juru bahasa isyarat turut membantu menjembatani interaksi antara mahasiswa dan anggota komunitas Tuli. Kehadiran mereka mendukung pertukaran informasi sehingga setiap peserta dapat mengikuti jalannya kegiatan dengan lebih baik.
Pada pertemuan sebelumnya, Ketua GERKATIN Bengkulu juga turut hadir. Keterlibatan pengurus organisasi memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal komunitas Tuli secara lebih dekat, termasuk pengalaman berkomunikasi dan tantangan yang dapat dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat.
Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, pengalaman ini menjadi kesempatan untuk menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik secara langsung. Konsep komunikasi verbal dan nonverbal, penyampaian pesan, serta proses membangun pemahaman dapat dipelajari melalui interaksi bersama komunitas Tuli.
Bahasa isyarat bukan sekadar gerakan tangan untuk menggantikan kata-kata yang diucapkan. Bahasa isyarat memiliki kaidah kebahasaan tersendiri, sementara ekspresi wajah dan gerakan tubuh dapat menjadi bagian penting dalam membentuk makna. Oleh karena itu, mempelajari bahasa isyarat juga berarti mengenal cara berkomunikasi yang berbeda dan memahami perspektif orang lain.
Lebih jauh, kegiatan ini memperlihatkan pentingnya inklusi dalam komunikasi sehari-hari. Masyarakat Tuli masih dapat menghadapi hambatan ketika informasi atau pelayanan hanya mengandalkan komunikasi lisan tanpa menyediakan akses komunikasi yang sesuai.
Menciptakan lingkungan komunikasi yang inklusif bukan hanya menjadi tanggung jawab komunitas Tuli. Masyarakat dengar juga memiliki peran dalam meningkatkan pemahaman, menghargai keberagaman cara berkomunikasi, dan membangun ruang interaksi yang lebih mudah diakses oleh semua orang.
Kolaborasi ini juga menempatkan komunitas Tuli sebagai mitra belajar yang berperan aktif dalam pertukaran pengetahuan. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk belajar langsung dari pengalaman anggota komunitas, sementara interaksi yang terjalin membuka ruang untuk membangun pemahaman dan kerja sama.
Melalui kegiatan bersama GERKATIN Bengkulu, mahasiswa Ilmu Komunikasi belajar bahwa keberhasilan komunikasi tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan seseorang dalam berbicara. Komunikasi juga membutuhkan kesediaan untuk memahami orang lain, mengenali kebutuhan yang berbeda, dan memberikan ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan pesan.
Pada akhirnya, komunikasi bukan hanya tentang suara yang terdengar, melainkan juga tentang makna yang dapat dipahami. Sebab, ada pesan yang disampaikan melalui gerakan tangan, ada cerita yang hadir melalui ekspresi wajah, dan ada pemahaman yang tumbuh ketika setiap orang bersedia belajar satu sama lain.