Smart Farming IoT Mulai Diterapkan di Kepahiang, Panen Cabai Keriting Tembus Era Pertanian Modern

Rabu, 07 Oktober 2026 | 10:25:43 WIB

KEPAHIANG – Ketidakpastian cuaca mendorong petani di Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, mulai beralih dari pola pertanian konvensional menuju sistem budidaya berbasis teknologi.

Salah satu inovasi tersebut diterapkan di Desa Bukit Barisan, Kecamatan Merigi, melalui green house smart farming berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi ini mulai menunjukkan hasil setelah tanaman cabai keriting di dalam rumah kaca memasuki masa panen perdana.

Panen perdana dilakukan langsung oleh Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat.

Penerapan green house pintar ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan ketahanan sektor pertanian terhadap perubahan cuaca yang selama ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi produktivitas tanaman cabai.

Bagi petani, cuaca ekstrem menjadi tantangan tersendiri. Musim kemarau dapat menyebabkan tanaman kekurangan air, sementara curah hujan tinggi berpotensi mengganggu pertumbuhan dan meningkatkan risiko kerusakan tanaman.

Melalui sistem green house, kondisi lingkungan tanaman dapat dikendalikan dengan lebih baik. Pengelolaan air dan kebutuhan tanaman dilakukan secara lebih terukur sehingga budidaya tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca di luar rumah kaca.

Zurdi menilai pemanfaatan teknologi harus menjadi bagian dari transformasi pertanian di Kabupaten Kepahiang.

“Dengan sistem ini, petani tidak perlu terlalu khawatir terhadap kondisi cuaca. Saat panas, tanaman tetap mendapatkan pengelolaan air yang sesuai, sedangkan ketika hujan, tanaman lebih terlindungi,” ujar Zurdi.

Menurutnya, teknologi pertanian kini bukan lagi sekadar inovasi tambahan, tetapi sudah menjadi kebutuhan untuk menghadapi tantangan sektor pangan yang semakin kompleks.

Green House Dilengkapi Teknologi IoT

Keunggulan utama smart farming di Kepahiang terletak pada penggunaan teknologi Internet of Things (IoT). Sistem tersebut memungkinkan sejumlah kebutuhan tanaman, mulai dari penyiraman hingga pemantauan kondisi budidaya, dilakukan dengan bantuan perangkat elektronik.

Sebagian proses bahkan dapat dikendalikan menggunakan gawai. Dengan demikian, petani dapat melakukan pemantauan secara lebih efisien tanpa harus terus-menerus berada di dalam area green house.

Penerapan teknologi ini juga membuka peluang bagi petani untuk mengelola budidaya berdasarkan kebutuhan tanaman secara lebih presisi. Penggunaan air dan input pertanian dapat disesuaikan sehingga proses produksi diharapkan menjadi lebih efisien.

Panen perdana di Desa Bukit Barisan menjadi indikator awal bahwa penerapan pertanian berbasis teknologi memiliki prospek untuk dikembangkan lebih luas di Kabupaten Kepahiang.

Selain berpotensi meningkatkan produktivitas, sistem tersebut juga dapat membantu menciptakan pola budidaya yang lebih terukur dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Green House Jadi Aset Bersama Petani

Zurdi juga mengingatkan Kelompok Tani Bukit Tani selaku pengelola agar menjaga dan memanfaatkan fasilitas green house secara optimal.

Menurutnya, fasilitas tersebut bukan sekadar bangunan pertanian, melainkan aset bersama yang harus dirawat agar dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.

“Jaga dan manfaatkan fasilitas ini dengan sungguh-sungguh. Ini bukan hanya sebuah bangunan, tetapi bagian dari masa depan pertanian kita. Harapannya, produksi meningkat dan kesejahteraan petani ikut tumbuh,” katanya.

Ia berharap keberadaan green house tersebut dapat menjadi contoh bagi pengembangan pertanian modern di wilayah lain.

Sinergi Pemkab Kepahiang dan Bank Indonesia

Panen perdana cabai keriting ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kepahiang dan Bank Indonesia dalam mendorong pengembangan sektor pertanian.

Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada penyediaan fasilitas teknologi. Penguatan kapasitas petani, peningkatan keterampilan pengelolaan produksi, pengembangan teknologi, hingga perluasan akses pasar juga menjadi bagian penting agar inovasi tersebut memberikan dampak berkelanjutan.

Kehadiran green house smart farming berbasis IoT di Desa Bukit Barisan menjadi salah satu contoh bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk menjawab tantangan pertanian di tengah perubahan iklim.

Jika dikembangkan secara konsisten, inovasi tersebut bukan hanya berpotensi meningkatkan produksi cabai keriting, tetapi juga mendorong efisiensi usaha tani dan meningkatkan kesejahteraan petani Kepahiang.

Halaman :

Terkini