OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil, Ekonomi Indonesia Dinilai Tangguh Hadapi Gejolak Global

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59:36 WIB

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia masih berada dalam kondisi stabil di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara.

Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar pada 30 September 2026. OJK melihat fundamental industri jasa keuangan nasional tetap solid dan terus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Di tingkat global, pertumbuhan ekonomi pada 2026 diperkirakan melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, proyeksi tersebut masih lebih baik dibandingkan perkiraan sebelumnya, salah satunya ditopang oleh meningkatnya investasi dan aktivitas perdagangan yang berkaitan dengan pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau **artificial intelligence (AI)**.

Namun, prospek ekonomi global masih menghadapi sejumlah risiko. Eskalasi konflik geopolitik kembali mendorong kenaikan harga minyak yang berpotensi memperbesar tekanan inflasi. Selain itu, fenomena **very strong El Nino** juga berisiko meningkatkan harga pangan dan sejumlah komoditas pertanian.

Tekanan inflasi tersebut membuat bank sentral di berbagai negara mempertahankan kebijakan suku bunga pada level tinggi dalam waktu lebih lama atau **higher for longer**.

Kondisi tersebut terlihat dari kenaikan suku bunga kebijakan di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Pasar bahkan masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada akhir 2026 yang berpotensi berlanjut hingga 2027.

Tekanan juga terlihat di pasar obligasi. Imbal hasil surat utang pemerintah di sejumlah negara mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade. Di Amerika Serikat dan Eropa, imbal hasil obligasi pemerintah kembali berada di kisaran level sebelum krisis keuangan global 2008. Sementara di Jepang, level tersebut bahkan kembali mendekati kondisi sebelum 1997.

Kenaikan imbal hasil obligasi turut dipengaruhi tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Selain itu, peningkatan penerbitan obligasi jangka panjang oleh perusahaan teknologi berskala besar atau **hyperscaler** untuk mendanai investasi infrastruktur AI juga ikut memberikan tekanan pada pasar obligasi global.

## Ekonomi Indonesia Tetap Stabil

Di tengah berbagai tekanan tersebut, kondisi perekonomian Indonesia dinilai relatif stabil.

OJK mencatat inflasi domestik masih terjaga sesuai dengan sasaran pemerintah. Stabilnya inflasi menjadi salah satu faktor yang mendukung daya beli masyarakat, sehingga permintaan domestik dan konsumsi tetap kuat.

Kondisi tersebut turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Optimisme terhadap perekonomian Indonesia juga tercermin dari revisi proyeksi Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Lembaga tersebut menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar **0,5 persen**.

Kenaikan proyeksi tersebut menjadi sinyal positif sekaligus mencerminkan kepercayaan terhadap kemampuan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan eksternal.

OJK menilai perkembangan positif tersebut tidak terlepas dari kontribusi sektor keuangan. Stabilitas sektor jasa keuangan yang tetap terjaga menjadi salah satu penopang penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan fundamental industri yang masih solid, sektor jasa keuangan Indonesia dinilai memiliki ketahanan yang cukup kuat untuk menghadapi dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Halaman :

Terkini