Kepahiang — Listrik yang menyala di rumah-rumah dan aktivitas ekonomi masyarakat Bengkulu ternyata punya cerita panjang di baliknya. Sebagian energi itu berasal dari air.
Di Kabupaten Lebong, air Danau Tes telah dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin sejak 1923. Lebih dari satu abad kemudian, pembangkit tersebut masih menjadi bagian dari sistem kelistrikan Bengkulu.
Sementara di Kabupaten Kepahiang, aliran Sungai Musi dimanfaatkan PLTA Musi untuk menghasilkan listrik dalam skala jauh lebih besar.
Dua pembangkit tenaga air itu kini menjadi bagian penting dari sistem kelistrikan di Bengkulu. Keduanya berada di bawah PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit (UBP) Bengkulu.
Namun, di balik besarnya kapasitas pembangkit, ada satu faktor yang tidak bisa dikendalikan hanya dengan mesin, yakni air. Ketika debit dan elevasi air turun, kemampuan pembangkit untuk menghasilkan listrik ikut terpengaruh. Kondisi itu mulai terlihat sepanjang 2026.
Manager UBP Bengkulu, Ariful Bahri, mengungkapkan produksi PLTA Musi hingga Agustus 2026 telah mencapai sekitar 575 juta kWh. Angka tersebut menunjukkan besarnya energi yang telah dihasilkan pembangkit berkapasitas 210 MW tersebut sejak awal tahun.
PLTA Musi sendiri resmi beroperasi pada 19 Oktober 2006 dengan kapasitas 3x70 MW. Pembangkit ini memanfaatkan aliran Sungai Musi dan menjadi salah satu pembangkit penting dalam sistem kelistrikan Sumatera Bagian Selatan.
Tetapi tingginya kapasitas terpasang tidak otomatis membuat produksi selalu berada pada tingkat maksimal. Dalam pemaparan pada Media Insight UPB Bengkulu 2026, Ariful menyebut capacity factor PLTA Musi saat ini berada di angka 42,58 persen.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan capaian sekitar 46 persen pada periode awal tahun. Bahkan pada Agustus 2026, capacity factor sempat berada di titik 20,47 persen.
Penurunan tersebut terjadi ketika kondisi sumber air mulai terpengaruh musim kemarau. Keterangan itu sejalan dengan penjelasan Ariful dimana produksi PLTA Musi dan PLTA Tes pada September 2026 disebut mengalami penurunan hampir separuh dibandingkan rata-rata produksi semester pertama akibat menurunnya elevasi dan debit air.
Artinya, persoalan yang dihadapi pembangkit bukan terletak pada kapasitas mesin yang tersedia, melainkan pada seberapa besar energi primer berupa air yang dapat digunakan untuk menggerakkan turbin.
Di Kabupaten Lebong, persoalan ketergantungan terhadap air bahkan memiliki sejarah yang jauh lebih panjang. PLTA Tes telah berdiri sejak 1923. Saat pertama dibangun, pembangkit ini hanya memiliki kapasitas 2x0,66 MW.
Setelah diambil alih PLN pada 1950, kapasitasnya terus dikembangkan. Pada 1960 kapasitasnya meningkat menjadi 4x4,4 MW, kemudian kembali mendapat tambahan kapasitas pada 2014. Saat ini kapasitas PLTA Tes mencapai sekitar 23,32 MW.
Danau Tes sendiri sampai saat ini masih menjadi sumber air yang menggerakkan turbin pembangkit tersebut. Dari pembangkit tua inilah sebagian kebutuhan listrik dalam sistem Bengkulu disuplai.
Jika kapasitas PLTA Musi dan PLTA Tes digabungkan, keduanya memiliki kapasitas lebih dari 233 MW. Besarnya kapasitas itu menempatkan pembangkit tenaga air sebagai bagian penting dalam sistem kelistrikan Bengkulu dan Sumatera Bagian Selatan.
Namun, angka produksi 2026 menunjukkan satu hal: kapasitas terpasang dan produksi aktual merupakan dua hal berbeda. PLTA Musi bisa memiliki kapasitas 210 MW, tetapi kemampuan pembangkit memanfaatkan kapasitas tersebut bergantung pada kondisi sumber daya air. Hal itu pula yang membuat pengelolaan daerah tangkapan air menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan pembangkit.
PLN Indonesia Power UBP Bengkulu menyebut telah melakukan program konservasi melalui penghijauan di sejumlah daerah aliran sungai sekitar wilayah operasional. Sejak 2023, sekitar 20.000 pohon disebut telah ditanam di empat lokasi daerah aliran sungai. Program tersebut melibatkan kelompok tani setempat dan diarahkan untuk menjaga ekosistem sekaligus mempertahankan fungsi kawasan dalam menyerap dan menyimpan air.
Di sisi lain, perkembangan arus informasi juga menjadi perhatian PLN Indonesia Power. Ariful mengatakan perkembangan media yang semakin massif membuat informasi yang diterima masyarakat dapat semakin beragam, termasuk munculnya informasi yang bias.
Karena itu, Media Insight UPB Bengkulu 2026 digelar bukan hanya sebagai ruang silaturahmi, tetapi juga sebagai sarana komunikasi antara PLN Indonesia Power dengan media mengenai program dan kondisi kelistrikan.
“Bagi masyarakat, pembangkit listrik mungkin hanya terlihat ketika listrik menyala atau padam. Namun di baliknya, ada sistem yang terus bekerja dan bergantung pada banyak faktor,” ungkap Ariful disela-sela pemaparannya.
PLTA Musi telah memproduksi sekitar 575 juta kWh hingga Agustus 2026. Tetapi pada saat yang sama, capacity factor pembangkit sempat jatuh hingga 20,47 persen ketika kondisi air menurun. Dua angka itu memperlihatkan satu kenyataan sederhana: besarnya pembangkit tidak selalu berarti besarnya produksi.
Untuk pembangkit tenaga air, ada satu hal yang tetap menjadi penentu sejak PLTA Tes berdiri lebih dari seabad lalu hingga PLTA Musi beroperasi hari ini. Ya hal itu adalah air. Dan ketika air berkurang, kemampuan menghasilkan listrik pun ikut berubah.(**)