Dari rumah produksi sederhana di Rejang Lebong hingga kontrak ekspor ke Afrika Selatan dan kopi yang menembus Italia, UMKM Bengkulu mulai memperluas jejaknya. Namun, naik kelas tak cukup hanya dengan bertambahnya omzet. Ujian sesungguhnya adalah menjaga mutu, memenuhi standar internasional, dan membuat pembeli kembali memesan.
BENGKULU — Pagi itu di Desa Purwodadi, Kecamatan Bermani Ulu, Kabupaten Rejang Lebong, aroma khas biji kopi yang baru dipanggang menguar dari sebuah rumah produksi sederhana.
Di sanalah Adi Negoro, pemilik Bermani Coffee, menghabiskan hari-harinya mengawasi proses sangrai hingga pengemasan biji kopi yang kelak dikirim jauh ke Sumatera, Jawa, bahkan Kalimantan.
Beberapa tahun lalu, cerita Bermani Coffee tak seluas sekarang. Pasarnya terbatas, jejaring mitra pun seadanya. Titik baliknya datang ketika Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu mulai melirik dan membina usahanya.
“Yang lebih kami unggulkan Robusta Natural. Tapi varian lainnya juga ada, seperti Robusta Wine dan Rebika,” kata Adi, menyebut sejumlah produk andalannya.
Dari kebun sendiri dan hasil panen petani sekitar, Bermani Coffee kini sanggup memasok hingga 10 ton green bean setiap tahun.
Bantuan mesin packing dari BI membuat proses pengemasan yang sebelumnya memakan waktu relatif lama menjadi lebih cepat dan rapi. Sebuah perubahan yang terlihat sederhana, tetapi berpengaruh pada kemampuan usaha memenuhi permintaan pasar dengan lebih konsisten.
Cerita Bermani Coffee menggambarkan perubahan yang tengah berlangsung pada sebagian UMKM Bengkulu. Usaha yang semula bergerak dalam pasar terbatas mulai belajar meningkatkan kapasitas, memperbaiki kemasan, membangun jejaring, hingga mengenal standar pasar yang lebih luas.
Jalan produk usaha mikro, kecil, dan menengah Bengkulu menuju pasar nasional dan global pun mulai terbuka.
Kopi, makanan olahan, wastra hingga produk kriya daerah tidak lagi hanya bertumpu pada konsumen lokal. Sebagian mulai masuk dalam proses kurasi, temu bisnis, kontrak pembelian, bahkan ekspor.
Namun, ukuran “naik kelas” bagi UMKM sesungguhnya tidak berhenti pada banyaknya produk yang dipamerkan atau besarnya transaksi selama sebuah kegiatan.
Tantangan berikutnya justru lebih berat: menjaga kualitas secara konsisten, memperbesar kapasitas produksi, memenuhi standar pasar tujuan, membangun rekam jejak keuangan, dan memastikan pasokan dapat dipenuhi ketika permintaan meningkat. Di titik inilah transformasi UMKM Bengkulu sedang diuji.
Batik dan Kopi dari Kepahiang

Ratusan kilometer dari Rejang Lebong, di Kabupaten Kepahiang, kisah serupa juga tumbuh.
Nurhayati, pengelola IKM Sumber Hayati, menekuni dua dunia usaha sekaligus: batik dan kopi. Keduanya dikerjakan dari dua lokasi produksi berbeda. Kopi digarap di Bandung Jaya, sedangkan batik diproduksi di Tebat Monok.
Setiap bulan, sekitar 250 kilogram kopi Arabika dan Robusta diproses secara terpisah oleh Nurhayati bersama timnya.
Produk tersebut kemudian dipasarkan melalui berbagai kanal. Marketplace menjadi etalase digital, sementara Instagram, Facebook, TikTok, dan penjualan langsung dari rumah produksi menjadi jalur lain untuk menjangkau konsumen.
Tetapi, bagi Nurhayati, manfaat terbesar menjadi UMKM binaan BI bukan sekadar peningkatan penjualan.
“Banyak sekali manfaat yang didapatkan menjadi binaan BI. Selain belajar dan menambah wawasan, kita juga ada bootcamp, capacity building, kemudian dibina untuk fasilitas,” ujarnya.
Pengalaman Nurhayati menunjukkan persoalan mendasar UMKM sering kali bukan hanya modal.
Pelaku usaha juga membutuhkan pengetahuan tentang produksi, kemasan, pemasaran, pengelolaan usaha, akses terhadap teknologi, hingga kemampuan membaca kebutuhan pasar. Tanpa itu, tambahan modal belum tentu otomatis membuat sebuah usaha mampu tumbuh.
Modal yang Sudah Terkumpul

Kisah Bermani Coffee dan Sumber Hayati hanyalah dua dari 11 UMKM kopi Bengkulu kategori premium dan fine coffee yang mengikuti program pembinaan Bank Indonesia sepanjang 2026.
Produk-produk mereka dibawa ke berbagai daerah untuk mengikuti kompetisi maupun kegiatan promosi. Sebagian berhasil membawa pulang prestasi. Barista-barista muda asal Bengkulu juga diasah melalui kompetisi tingkat regional Sumatera.
Bagi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, pencapaian tersebut bukan datang tanpa modal dasar.

Ia melihat kopi Bengkulu memiliki kekuatan dari kualitas produk dan sumber daya manusia yang berada di belakangnya.
“Perhatian kami tidak hanya pada peningkatan produksi, tapi juga pengembangan sumber daya manusianya,” katanya kepada ikobengkulu.com
Pembinaan tersebut menjadi penting karena pasar kopi telah berubah. Persaingan tak hanya terjadi pada kualitas biji, tetapi juga proses pascapanen, konsistensi rasa, pengemasan, kemampuan memasok dalam jumlah tertentu hingga cerita mengenai asal produk. Dengan kata lain, kopi bukan lagi hanya komoditas yang dipanen, dijual, lalu selesai.
Ia telah menjadi bagian dari industri dengan standar yang semakin spesifik.
Transaksi Tumbuh, Akses Pasar Mulai Terbuka
Perubahan pada tingkat pelaku usaha berjalan beriringan dengan semakin terbukanya akses pasar. Salah satu penandanya terlihat dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta. Sebanyak 32 UMKM Bengkulu mengikuti kegiatan itu secara daring dan enam lainnya hadir langsung, membawa produk wastra serta makanan dan minuman ke pasar yang lebih luas.
Dalam laporan awal pelaksanaan KKI 2026 pada 23 Agustus, UMKM binaan Bank Indonesia Bengkulu tercatat membukukan transaksi sekitar Rp955,49 juta dari pameran langsung dan kanal virtual.

Angka tersebut kemudian berkembang. Laporan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, pada 28 Agustus 2026 mencatat penjualan daring UMKM Bengkulu mencapai sekitar Rp1,195 miliar, sementara penjualan langsung mencapai Rp49,20 juta.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan transaksi terus bergerak selama rangkaian kegiatan berlangsung. Namun, capaian yang lebih strategis justru muncul di luar transaksi ritel. Kopi Bukit Barisan memperoleh Letter of Intent atau LoI dari Indonesia Specialty Coffee untuk pembelian awal 500 kilogram kopi robusta Bengkulu dengan nilai sekitar Rp35,5 juta.
Sementara itu, CV Jaya Rasa mendapatkan kontrak pengiriman 500 produk makanan ringan Perut Punai senilai 1.500 dollar AS untuk pasar Afrika Selatan. Capaian tersebut menunjukkan perubahan penting. Sebagian UMKM mulai bergerak dari model transaksi langsung kepada konsumen menuju hubungan bisnis antarusaha atau business-to-business. Bagi usaha kecil, perubahan itu bukan perkara sederhana.
Pesanan dalam jumlah lebih besar berarti pelaku usaha harus menjamin kontinuitas produksi, menjaga mutu, memenuhi legalitas, mengatur jadwal pengiriman, serta memiliki arus kas yang memadai untuk menjalankan produksi sebelum pembayaran diterima sepenuhnya. Di sinilah istilah “naik kelas” memperoleh makna yang lebih konkret.
Kopi Bengkulu Membuka Jalan
Kopi menjadi salah satu komoditas yang memperlihatkan bagaimana produk lokal Bengkulu mulai masuk ke rantai pasar internasional. Sepanjang 2026, sedikitnya 11 UMKM kopi kategori premium dan fine coffee mengikuti proses pembinaan dan kurasi Bank Indonesia.

Program tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan volume produksi, tetapi juga penguatan kapasitas sumber daya manusia dan perluasan akses pasar.
Salah satu hasilnya terlihat ketika kopi Bengkulu menjadi bagian dari realisasi ekspor sebanyak 19,2 ton ke Italia. UMKM yang sebelumnya melewati proses kurasi dan fasilitasi business matching ikut masuk dalam realisasi tersebut. Bagi Bengkulu, peristiwa itu memiliki arti lebih besar dibandingkan sekadar pengiriman satu kontainer kopi ke luar negeri.
Ia menunjukkan bahwa kopi yang berasal dari kebun-kebun Bengkulu memiliki peluang masuk ke mata rantai perdagangan internasional selama kualitas, pasokan, dan persyaratan pasar dapat dipenuhi.
Tetapi, pasar ekspor tidak hanya menilai rasa. Produk harus memiliki mutu yang konsisten, proses pascapanen yang terjaga, kemampuan telusur atau traceability, hingga kepatuhan terhadap ketentuan negara tujuan.
Untuk memasuki pasar internasional, kopi Bengkulu juga harus menghadapi tuntutan mengenai asal-usul komoditas dan keberlanjutan lingkungan.
Bank Indonesia Bengkulu, sebagaimana diberitakan BengkuluNetwork.com, pernah mengingatkan eksportir mengenai semakin ketatnya ketentuan pasar, termasuk kebutuhan memastikan komoditas tidak berasal dari praktik yang berkaitan dengan deforestasi.
Persyaratan semacam ini menunjukkan bahwa perdagangan global bergerak semakin jauh dari sekadar transaksi jual-beli. Pembeli ingin mengetahui dari mana sebuah produk berasal, bagaimana produk itu diproses, hingga apakah proses produksinya memenuhi standar keberlanjutan.
Karena itu, keberhasilan melakukan satu kali ekspor belum cukup untuk menyatakan sebuah UMKM telah berhasil menembus pasar global secara berkelanjutan. Ujian sebenarnya adalah ekspor kedua, ketiga, dan seterusnya.
Naik Kelas Bukan Hanya Soal Modal.
Persoalan klasik UMKM kerap dipersempit menjadi kekurangan modal. Padahal, pembiayaan hanya satu bagian dari masalah. Produk dengan modal besar tetapi tanpa kemasan kompetitif, administrasi usaha yang tertib, sertifikasi, identitas merek, pemasaran digital, kapasitas produksi, dan jaringan distribusi tetap akan sulit berkembang.
Hal itulah yang menjadi perhatian berbagai program pengembangan UMKM di Bengkulu. Program GadePreneur Pegadaian, misalnya, menggabungkan akses permodalan dengan pelatihan bisnis, pendampingan, rebranding, perbaikan desain dan kemasan, hingga penguatan posisi produk.
Di Pulau Enggano, Universitas Bengkulu juga melakukan pendampingan terhadap UMKM Royal Banana Caramel untuk mengolah pisang lokal menjadi produk bernilai tambah. Pendampingan diarahkan pada peningkatan kualitas produksi, legalitas, kemasan, dan pemasaran.
Digitalisasi menjadi lapisan berikutnya. Pemerintah Kota Bengkulu juga menilai penggunaan media sosial dan teknologi digital bukan lagi sekadar pilihan tambahan bagi UMKM, melainkan kebutuhan untuk menghadapi kompetisi pasar.
Apa yang dilakukan Sumber Hayati memberi gambaran sederhana mengenai perubahan tersebut. Produk tidak lagi hanya menunggu konsumen datang ke rumah produksi. Instagram, TikTok, Facebook, dan marketplace menjadi perpanjangan etalase UMKM yang sebelumnya dibatasi jarak geografis.
Namun, hadir di marketplace pun belum otomatis membuat sebuah usaha kompetitif. Foto produk harus menarik, respons kepada konsumen harus cepat, ongkos pengiriman harus diperhitungkan, ulasan pelanggan perlu dijaga, dan kapasitas stok mesti sesuai dengan informasi yang terpampang secara digital.
Artinya, istilah UMKM “naik kelas” seharusnya tidak sekadar diukur dari omzet. Ada transformasi yang lebih mendasar: usaha yang sebelumnya informal menjadi lebih tertata, produk memiliki standar, kapasitas meningkat, pasar semakin luas, transaksi tercatat, dan usaha mulai mampu masuk ke rantai pasok yang lebih besar.
Dari Rumah Produksi ke Rantai Pasok
Perjalanan Bermani Coffee menunjukkan proses itu berlangsung selangkah demi selangkah. Kemampuan memasok hingga 10 ton green bean per tahun tidak tercipta hanya karena pasar bertambah. Ia ditopang kebun, petani sekitar, pengolahan, mesin, tenaga kerja, kemasan, dan jejaring distribusi.
Mesin packing mungkin hanya satu perangkat dalam keseluruhan rantai produksi. Tetapi ketika proses pengemasan menjadi lebih cepat dan seragam, kapasitas usaha pun ikut berubah. Hal yang sama berlaku pada pelatihan, kompetisi, business matching, dan pendampingan. Satu kegiatan belum tentu menghasilkan transformasi.
Nilainya baru terlihat ketika berbagai intervensi itu terhubung dan membuat pelaku usaha mampu memperbaiki operasional bisnis dari hulu hingga hilir. Dalam konteks inilah peran pembinaan menjadi lebih relevan daripada sekadar pemberian bantuan.
Tujuan akhirnya bukan menciptakan UMKM yang terus bergantung kepada program pemerintah, bank sentral, perusahaan, maupun lembaga pendamping. Tujuannya justru membuat usaha cukup kuat untuk berdiri sendiri setelah masa pendampingan selesai.
Momentum Ekspor Bengkulu
Pergerakan UMKM berlangsung ketika perdagangan Bengkulu menunjukkan momentum positif. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Provinsi Bengkulu pada Juli 2026 mencapai 13,82 juta dollar AS, naik 10,08 persen dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 12,56 juta dollar AS.
Dibandingkan dengan Juli 2025, nilainya melonjak 251,97 persen. Sepanjang Januari-Juli 2026, neraca perdagangan barang Bengkulu mencatat surplus sekitar 42,11 juta dollar AS. India menjadi salah satu negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai 17,33 juta dollar AS, disusul Pakistan 9,32 juta dollar AS dan Kamboja 5,37 juta dollar AS.
Peningkatan nilai ekspor daerah tidak otomatis berarti UMKM telah menjadi penopang utama perdagangan internasional Bengkulu. Struktur ekspor daerah masih banyak dipengaruhi oleh komoditas dalam skala besar.
Karena itu, tantangan yang lebih strategis ialah memperbesar kontribusi produk olahan bernilai tambah dan membuat keberhasilan ekspor UMKM tidak berhenti sebagai peristiwa sporadis. Laporan perekonomian Bank Indonesia pada Agustus 2026 juga menunjukkan tantangan lain.
Kredit UMKM pada triwulan II 2026 mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya, meski kualitas kredit masih berada dalam batas yang terjaga. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa ekspansi usaha membutuhkan ekosistem lebih lengkap daripada pameran dan pelatihan.
Pelaku usaha membutuhkan pembiayaan, tetapi mereka juga membutuhkan pasar yang jelas. Mereka membutuhkan mesin, tetapi juga kepastian bahwa kapasitas tambahan itu dapat diserap pembeli. Mereka membutuhkan digitalisasi, tetapi juga kemampuan mengelola transaksi dan hubungan dengan konsumen. Dari Produk Lokal Menjadi Merek Global
Bengkulu memiliki bahan baku dan identitas produk yang kuat. Ada kopi dari kawasan pegunungan, kain besurek, berbagai produk berbasis identitas Rafflesia, hasil perkebunan, pangan olahan, hingga komoditas khas pulau seperti pisang Enggano.Persoalannya adalah bagaimana keunggulan lokal tersebut dikonversi menjadi nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Di pasar global, sebuah produk tidak hanya bersaing melalui harga. Konsumen dan pembeli besar mempertimbangkan konsistensi mutu, desain, keamanan pangan, sertifikasi, keberlanjutan, cerita di balik produk, hingga kemampuan produsen memenuhi kontrak. Dalam perdagangan kopi, misalnya, asal geografis bahkan dapat menjadi bagian dari nilai sebuah produk.
Nama Rejang Lebong atau Kepahiang bukan semestinya hanya menjadi lokasi produksi, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari identitas kopi Bengkulu apabila kualitas dan reputasinya dijaga secara konsisten. Di sinilah pendekatan terhadap UMKM perlu bergerak dari sekadar “menjual produk daerah” menuju pembangunan merek.
Produk mungkin membuka pintu transaksi pertama. Tetapi merek, reputasi, dan konsistensi menentukan apakah konsumen akan membeli untuk kedua kalinya. Jangan Berhenti di Pameran. Pameran memang penting. Ajang seperti KKI mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen, calon mitra, investor, distributor, hingga pembeli potensial.
Pasar Global, Standar Global
Bagi Bengkulu, peluang pasar sebenarnya mulai terbuka. Ekspor kopi ke Italia menunjukkan salah satu pintunya. Kontrak makanan ringan menuju Afrika Selatan memperlihatkan bahwa produk olahan juga mempunyai kesempatan. Sementara distribusi Bermani Coffee hingga Sumatera, Jawa, dan Kalimantan menunjukkan pasar domestik sendiri masih menyediakan ruang pertumbuhan yang luas.
Tetapi semakin jauh pasar yang dituju, semakin tinggi pula tuntutan yang harus dipenuhi. UMKM harus mampu menjaga rasa produk yang sama dari satu produksi ke produksi berikutnya. Kemasan harus mampu melindungi produk selama distribusi. Legalitas dan sertifikasi harus lengkap. Kapasitas harus sesuai dengan kontrak. Dokumentasi bahan baku harus lebih rapi. Dan bagi komoditas tertentu, aspek keberlanjutan dan traceability akan semakin menentukan akses pasar.
Karena itu, membawa UMKM Bengkulu menuju pasar global memerlukan kesinambungan antara peningkatan kualitas produk, legalitas dan sertifikasi, digitalisasi, pembiayaan, penguatan kapasitas produksi, kurasi, serta akses langsung kepada pembeli.
KKI dan berbagai program pendampingan dapat menjadi pintu masuk.
Namun, keberhasilan jangka panjang baru terlihat ketika hubungan yang dibangun melalui pameran berubah menjadi kontrak berulang dan ketika pelaku usaha mampu berkembang tanpa terus-menerus bergantung kepada fasilitasi. Bagi Bengkulu, peluang itu mulai terlihat. Dari aroma kopi yang mengepul di rumah produksi sederhana di Bermani Ulu, usaha Adi Negoro kini mampu menjangkau pasar hingga lintas pulau.
Dari Bandung Jaya dan Tebat Monok, Nurhayati membawa kopi dan batik Kepahiang menuju konsumen yang semakin luas melalui kanal digital. Dari berbagai ajang kurasi dan temu bisnis, produk UMKM Bengkulu mulai memperoleh akses ke pembeli di dalam dan luar negeri.
Ekspor kopi ke Italia, kontrak produk pangan menuju Afrika Selatan, serta keterlibatan puluhan UMKM dalam pasar nasional menunjukkan bahwa jarak antara produk lokal dan konsumen global semakin pendek. Tetapi, perjalanan itu belum selesai. Tantangan berikutnya bukan sekadar membawa produk Bengkulu keluar daerah atau keluar negeri.
Tantangannya adalah memastikan produk itu dibeli kembali, diproduksi secara konsisten, memenuhi standar internasional, mempunyai nilai tambah yang semakin besar, dan mampu bertahan di pasar tanpa bergantung selamanya pada program pendampingan. Di sanalah makna sebenarnya dari UMKM Bengkulu naik kelas. ***