Kopi Bengkulu Tembus Italia, Bank Indonesia Perkuat Ekosistem Kopi dari Hulu Hingga Global

Selasa, 08 September 2026 | 06:53:56 WIB
Eksor perdana kopi ke Italia

BENGKULU- Sentra kopi terbesar kelima di Indonesia ini akhirnya menembus pasar Eropa. Sebanyak 19,2 ton kopi Robusta Bengkulu, setara satu kontainer, resmi dilepas menuju Italia dengan nilai ekspor mencapai Rp1,26 miliar atau setara US$71.000.

Pelepasan ekspor perdana ini digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu bersama Pemerintah Daerah dan berbagai mitra strategis di Kabupaten Kepahiang, Minggu (7/9/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Gubernur Bengkulu Ir H. Mian yang secara langsung melepas ekspor perdana kopi Bengkulu, serta dihadiri Bupati Kepahiang, Bupati Lebong, perwakilan Pemerintah Kabupaten Rejang Lebong, kementerian/lembaga, perbankan, akademisi, asosiasi, agregator, pelaku industri, UMKM, hingga kelompok tani.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menyebut momentum ekspor perdana ini menjadi bukti nyata bahwa kopi Bengkulu memiliki kualitas dan daya saing untuk menjangkau pasar global.

"Ekspor perdana ini merupakan hasil dari proses pengembangan yang dilakukan secara bertahap dan kolaboratif. Kami bersama Pemerintah Daerah dan berbagai mitra terus mendorong peningkatan kualitas produk, kapasitas pelaku usaha, penguatan kelembagaan, serta perluasan akses pasar," kata Wahyu.

Kopi yang diekspor berasal dari koperasi, petani, dan pengusaha kopi di Provinsi Bengkulu yang bekerja sama dengan PT Alko Sumatra Kopi sebagai agregator ekspor yang menghubungkan kopi Bengkulu dengan pasar internasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Provinsi Bengkulu tercatat sebagai produsen kopi terbesar kelima di Indonesia, dengan Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong sebagai sentra produksinya.

Wahyu menjelaskan, dalam pengembangan UMKM kopi, BI menerapkan tiga pilar utama, yaitu korporatisasi, kapasitas, dan pembiayaan.

"Ketiga pilar tersebut kami arahkan untuk memperkuat kelembagaan dan kemitraan, meningkatkan kualitas dan kapasitas usaha, serta memperluas akses pembiayaan dan pasar agar UMKM semakin naik kelas dan berdaya saing," ujarnya.

Ia menambahkan, sepanjang 2026, sebanyak 11 UMKM kopi Bengkulu dengan produk kategori premium dan fine mengikuti proses kurasi di Departemen Ekonomi-Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, yang kemudian difasilitasi dalam business matching ekspor bersama agregator maupun calon buyer. Salah satu UMKM binaan tersebut menjadi bagian dari realisasi ekspor 19,2 ton kopi Bengkulu ke Italia.

"Salah satu UMKM yang melalui rangkaian kurasi dan fasilitasi akses pasar itu menjadi bagian dari realisasi ekspor kali ini," kata Wahyu.

Selain kurasi dan business matching, dukungan BI terhadap pengembangan kopi Bengkulu juga dilakukan melalui Program Implementasi Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Daerah, berupa bantuan sarana dan prasarana seperti rumah jemur kopi, color sorter green beans, dan mesin roasting. Pada kegiatan pelepasan ekspor ini, BI kembali menyerahkan bantuan mesin color sorter green beans dan mesin roasting secara simbolis kepada dua kelompok UMKM kopi.

"Dukungan ini kami harapkan mampu meningkatkan kualitas dan konsistensi hasil pengolahan kopi, sekaligus memperkuat kesiapan UMKM dalam memenuhi standar pasar nasional maupun internasional," ujar Wahyu.

Rangkaian kegiatan turut diawali dengan Bincang Kopi yang menghadirkan narasumber dari PT Alko Sumatra Kopi, Starbucks Coffee, Tomoro Coffee, serta Nichel Alfathah Saputra, peraih juara kompetisi barista pada Karya Kreatif Sumatera Utara 2026. Selain itu, digelar pula pameran 10 UMKM kopi Bengkulu serta keterlibatan perbankan yang membuka booth untuk mendukung kebutuhan pembiayaan ekspor, termasuk fasilitasi penerbitan Letter of Credit (L/C).

Kegiatan juga dirangkaikan dengan penandatanganan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) antara Pemerintah Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Rejang Lebong dalam rangka pengembangan ekonomi daerah, termasuk penguatan komoditas kopi.

Sebagai bagian dari digitalisasi ekosistem kopi, KPwBI Provinsi Bengkulu turut meluncurkan Platform Asal Usul dan Dashboard Ekonomi Kopi (PADEK) Bengkulu yang dapat diakses melalui www.padek-bengkulu.com. Platform ini mendukung traceability atau ketertelusuran kopi melalui QR Code yang memuat informasi mengenai asal, karakteristik, dan pelaku usaha kopi.

Wahyu berharap, ekspor perdana 19,2 ton ke Italia dapat menjadi pembuka bagi realisasi ekspor berikutnya.

"Ke depan, pengembangan kopi Bengkulu akan terus diarahkan pada penguatan kualitas dan kontinuitas produksi, perluasan akses pasar, serta peningkatan nilai tambah bagi petani dan UMKM. Kami berharap semakin banyak UMKM yang terhubung dengan pasar global dan semakin luas manfaat ekonomi yang tercipta di Provinsi Bengkulu," pungkasnya. (*)

Terkini