11 UMKM Kopi Bengkulu Naik Kelas Berkat Pembinaan BI

Selasa, 08 September 2026 | 06:30:27 WIB
Owner IKM Sumber Hayati, Nurhayati

BENGKULU, IKOBENGKULU.COM - Sebanyak 11 UMKM kopi Bengkulu kategori premium dan fine ikut program pembinaan Bank Indonesia (BI) sepanjang 2026. Ini jadi bukti kopi Bengkulu punya modal kuat untuk jadi komoditas unggulan, mulai dari kualitas produk sampai sumber daya manusia (SDM).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu Wahyu mengungkapkan hal itu. Menurutnya, potensi tersebut harus terus digenjot lewat pembinaan, peningkatan kapasitas pelaku usaha, sampai perluasan akses pasar.

"Perhatian kami tidak hanya pada peningkatan produksi, tapi juga pengembangan sumber daya manusianya," kata Wahyu.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wahyu Yuwana Hidayat

Produk-produk UMKM binaan itu juga dibawa ke berbagai daerah untuk ikut kompetisi dan ajang promosi, bahkan beberapa berhasil menyabet prestasi. Tak cuma produk, kualitas barista lokal juga ikut digenjot. Sejumlah barista asal Bengkulu diikutkan dalam kompetisi tingkat regional Sumatera.

"Ini menjadi modal yang luar biasa. Harapannya kopi Bengkulu bisa terjaga kualitasnya, terjaga produksinya, termasuk kontinuitasnya," ujar Wahyu.

Ekosistem Kopi Bengkulu Dinilai Sudah Lengkap

Wahyu menyebut ekosistem pendukung industri kopi di Bengkulu sebenarnya sudah cukup lengkap. Mulai dari petani, UMKM, eksportir, perbankan, pemerintah, sampai akademisi, semuanya sudah ada.

"Seluruh sarana infrastruktur sudah kumpul semua di sini. Sehingga menurut saya tinggal kita lari kencang. Itu cuma masalah keinginan dan masalah waktu," pungkasnya.

Cerita UMKM Binaan BI

Dukungan BI ke pelaku usaha kopi juga terlihat dari pembinaan ke sejumlah UMKM, di antaranya Bermani Coffee di Kabupaten Rejang Lebong dan IKM Sumber Hayati di Kabupaten Kepahiang. Lewat pembinaan ini, keduanya kebagian banyak manfaat, mulai dari peningkatan kapasitas usaha, tambahan wawasan, jejaring pemasaran, sampai bantuan fasilitas produksi.

Owner Bermani Coffee Adi Nugroho

Owner Bermani Coffee, Adi Negoro, mengaku pembinaan BI bikin produknya makin melebarkan sayap. Pasarnya kini merambah Sumatera, Jawa, sampai Kalimantan.

"Yang lebih kami unggulkan Robusta Natural. Tapi varian lainnya juga ada, seperti Robusta Wine dan Rebika," kata Adi.

Bermani Coffee yang berlokasi di Desa Purwodadi, Kecamatan Bermani Ulu, punya kapasitas produksi sampai 10 ton green bean per tahun. Bahan bakunya dari kebun sendiri plus hasil panen petani kopi sekitar.

Selain bantu pemasaran, BI juga turun tangan menguatkan proses produksi. Bermani Coffee sempat dapat bantuan mesin packing yang bikin proses pengemasan makin cepat dan efisien.

Cerita serupa datang dari pengelola IKM Sumber Hayati, Nurhayati, di Kepahiang. Menurutnya, program BI memberi banyak ilmu baru sekaligus kesempatan ikut bootcamp dan capacity building.

"Banyak sekali manfaat yang didapatkan menjadi binaan BI. Selain belajar dan menambah wawasan, kita juga ada bootcamp, capacity building, kemudian dibina untuk fasilitas," ujar Nurhayati.

IKM Sumber Hayati sendiri punya dua lini usaha, yakni batik dan kopi, dengan lokasi produksi beda tempat. Produksi kopi dilakukan di Bandung Jaya, sementara batik di Tebat Monok.

Untuk kopi, produksinya sekitar 250 kilogram per bulan, terdiri dari Arabika dan Robusta yang diproses terpisah. Pemasarannya lewat marketplace dan media sosial macam Instagram, Facebook, dan TikTok, sampai penjualan langsung dari rumah produksi. (*)

Terkini