Cerita Penjual Kemplang Bakar di Tengah Marak Cemilan Kekinian

Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:07:22 WIB
Usaha kemplang bakar itu menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarganya.

IKOBENGKULU — Berbeda dari kemplang pada umumnya yang digoreng atau disangrai menggunakan pasir, kemplang bakar menjadi salah satu pilihan camilan yang menawarkan cita rasa dan aroma khas dari proses pembakaran langsung menggunakan bara arang.

Salah satu usaha rumahan yang memproduksi kemplang bakar berada di kawasan Bumi Ayu 6, Kota Bengkulu. Usaha milik Lusi (42) tersebut dijalankan di depan rumahnya yang berada di dalam gang dan telah bertahan selama lebih dari lima tahun.

Lusi mengatakan, usaha tersebut bermula karena dirinya memiliki kemampuan untuk membuat kemplang bakar dan melihat cukup banyak masyarakat yang berminat. Selain itu, usaha tersebut juga menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarganya.

“Awalnya karena bisa dan memang lumayan banyak yang minat. Kebetulan juga sedang butuh uang, jadi usaha ini kami jadikan usaha utama keluarga,” ujar Lusi saat diwawancarai Rabu (19/8/26).

Keunikan kemplang buatan Lusi terletak pada proses pengolahannya. Jika kemplang pada umumnya digoreng atau disangrai, Lusi memilih membakarnya secara langsung di atas bara arang.

Kemplang mentah diarahkan ke api hingga matang. Proses tersebut menghasilkan aroma arang yang khas atau smoky, sekaligus meninggalkan bercak kecokelatan pada permukaan kemplang.

Setelah dibakar dan didiamkan hingga dingin, kemplang kemudian langsung dikemas dan dijual kepada konsumen. Untuk kemplang mentahnya, Lusi mendapat pasokan dari pemasok yang berada di Kota Bengkulu. Namun, menurutnya, bahan baku kemplang mentah tersebut cukup sulit diperoleh.

Kemplang mentah sendiri dibuat dari daging ikan dan bumbu yang dicampur hingga rata, kemudian tepung sagu dimasukkan sedikit demi sedikit sampai adonan dapat dibentuk menjadi lenjoran. Adonan tersebut selanjutnya direbus atau dikukus hingga matang, didinginkan, diiris tipis, lalu dijemur hingga benar-benar kering sebelum siap dibakar.

Dalam sehari, Lusi dapat menjual sekitar 15 hingga 20 kantong kemplang bakar. Setiap kantongnya dibanderol dengan harga Rp10 ribu. Sementara itu, omzet yang diperoleh tidak menentu karena bergantung pada jumlah penjualan setiap harinya.

Lusi berharap usaha kemplang bakarnya dapat semakin dikenal masyarakat dan memiliki lebih banyak pelanggan. Ia juga berharap usaha yang telah menjadi sumber penghasilan utama keluarganya tersebut dapat berkembang dan memiliki skala usaha yang lebih besar.

“Harapannya semoga semakin ramai dan makin dikenal banyak orang. Mudah-mudahan nanti usahanya bisa lebih besar, tidak kecil seperti sekarang,” kata Lusi.

Penulis: Fiza Pratisya Zuinara

Terkini