IKOBENGKULU – Di tengah kenaikan harga bahan baku dan operasional, produsen tahu dan tempe di Kota Bengkulu memilih opsi penyesuaian ukuran produk ketimbang menaikkan harga jual demi menjaga daya beli konsumen.
Vera (37), pengusaha tempe dan tahu di Bengkulu, mengungkapkan bahwa lonjakan harga kedelai impor yang kini merangkak ke kisaran Rp11.000–Rp12.000 per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp10.000 per kilogram cukup membebani perajin. Selain kedelai, kenaikan harga plastik pembungkus juga makin mengimpit margin keuntungan.
Kendati demikian, menaikkan harga jual dinilai riskan karena berpotensi membuat pelanggan berpaling.
"Dampaknya paling kita mengecilkan ukuran produk. Kalau harga dinaikkan, konsumen keberatan. Alhamdulillah, sejauh ini permintaan konsumen justru tetap ada dan cenderung bertambah," ujar Vera saat ditemui di tempat usahanya, Selasa (18/8/2026).
Penerus usaha keluarga yang telah berjalan lebih dari 10 tahun ini menjelaskan, dalam sehari pabriknya mengolah sekitar 50 hingga 70 kilogram kedelai untuk tempe, serta lebih dari 60 kilogram untuk tahu. Bahan baku tersebut didapatkan dari pemasok lokal di Kota Bengkulu.
Dari pasokan tersebut, Vera mampu memproduksi sekitar 300 hingga 400 buah tempe serta 10 hingga 20 bak tahu per hari. Produk hasil olahannya rutin didistribusikan ke sejumlah titik strategis, mulai dari Pasar Panorama, warung-warung pengecer, hingga ke dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan omzet harian mencapai sekitar Rp500.000, Vera berharap ke depannya dapat mempermodern peralatan produksinya. Modernisasi mesin dianggap menjadi solusi atas kendala keterbatasan tenaga kerja manual yang makin sulit didapat.
"Harapannya ke depan usaha bisa semakin berkembang dan alat produksi makin canggih. Saat ini cukup sulit mendapatkan tenaga kerja yang konsisten, jadi peremajaan alat akan sangat membantu proses produksi," tuntasnya.
Penulis: Shabrina Putri