Motivasi Mahasiswa Baru UT Bengkulu, Senator Destita Ungkap Langkah Kecil Hari Ini Menentukan Masa Depan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 11:48:46 WIB
Senator Destita saat menjadi pemateri dalam rangkaian Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB), Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ), dan kegiatan lainnya di UT Bengkulu, Sabtu (8/8/2026).

IKOBENGKULU – Anggota DPD RI/MPR RI asal Bengkulu, Apt. Hj. Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M., memotivasi mahasiswa baru Universitas Terbuka (UT) Bengkulu agar berani bermimpi, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah dalam meraih masa depan. Pesan itu disampaikan Destita saat menjadi pemateri dalam rangkaian Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB), Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh (PKBJJ), dan kegiatan lainnya di UT Bengkulu, Sabtu (8/8/2026).

Di hadapan mahasiswa baru, Destita membagikan pengalaman pendidikan dan kariernya hingga dipercaya menjadi wakil Provinsi Bengkulu di DPD RI. Ia menekankan pentingnya bekerja dengan baik, membangun kemampuan, serta memperluas jejaring karena ketiganya dapat membuka peluang baru dalam perjalanan karier.

Destita menceritakan pengalamannya bekerja di perusahaan farmasi Jepang, Mitsubishi Tanabe Pharma, selama sekitar 13 tahun setelah sebelumnya terlibat dalam proyek Japan International Cooperation Agency (JICA). Selama berkarier, ia dipercaya menangani sejumlah negara di kawasan ASEAN.

Menurut anggota Komite III DPD RI tersebut, pengalaman itu membuktikan bahwa kerja keras dan reputasi yang baik dapat membuat seseorang justru dicari oleh pemberi kerja. Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya berpikir bagaimana mendapatkan pekerjaan, tetapi juga membangun kemampuan dan rekam jejak agar memiliki nilai lebih di dunia profesional.

“Kalau kita bekerja dengan baik, orang itu yang akan mencari. Jadi adik-adik jangan hanya berpikir bagaimana mencari pekerjaan, tetapi bagaimana agar kita dicari oleh pemberi kerja,” kata Destita.

Destita juga mengingatkan mahasiswa agar tidak meremehkan langkah-langkah kecil yang dilakukan saat ini. Menurutnya, disiplin, kemauan belajar, kerja keras, kemampuan membangun relasi, dan konsistensi dalam meningkatkan kapasitas akan menjadi bekal penting untuk menghadapi masa depan.

Ia kemudian menceritakan keputusannya kembali ke tanah kelahiran orang tuanya dan mengabdi untuk Provinsi Bengkulu. Meski tidak lahir, bersekolah, maupun membangun karier di Bengkulu, Destita datang dengan membawa pengalaman yang diperoleh selama berkarier di tingkat nasional dan internasional.

Salah satu upayanya adalah mendatangi sekitar 1.000 desa dalam waktu sekitar tiga bulan untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat. Menurutnya, kepercayaan tidak dapat diraih hanya dengan niat, tetapi harus dibuktikan melalui kerja dan usaha nyata.

“Ketika kita sudah memutuskan untuk menjadi sesuatu, kita harus berjuang. Kita harus bekerja keras untuk meraih apa yang kita inginkan, setelah itu kita berdoa dan bertawakal,” ujar Destita.

Destita meminta mahasiswa menjadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang. Ia menilai keterbatasan maupun pandangan orang lain tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.

Pesan tersebut juga ia kaitkan dengan pilihan mahasiswa menempuh pendidikan di UT. Menurut Destita, sistem pembelajaran yang fleksibel memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menjalani kuliah sambil bekerja maupun menjalankan tanggung jawab lainnya.

“Jangan pernah menyerahkan masa depan pada nasib. Semua harus direncanakan, kita harus berusaha, berikhtiar, berdoa, baru tawakal kepada Allah,” ucap Destita.

Ia juga meminta mahasiswa baru memanfaatkan seluruh fasilitas UT, mulai dari tutorial, forum diskusi, perpustakaan virtual, tutor hingga berbagai layanan pendukung pembelajaran. Mahasiswa, kata dia, harus berani bertanya dan aktif mencari informasi sejak awal perkuliahan agar tidak kehilangan kesempatan.

Selain fokus pada akademik, Destita mendorong mahasiswa membangun jejaring dan aktif berorganisasi. Menurutnya, pengalaman berorganisasi dapat melatih kepemimpinan, kerja sama tim, manajemen waktu, sekaligus memperluas relasi yang bermanfaat untuk kehidupan profesional.

“Organisasi itu akan banyak mengajarkan kita, minimal kita menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Bagaimana kita mengatur kerja, belajar, keluarga, dan organisasi, kemudian bagaimana kita bekerja sama dengan tim,” tutur Destita.

Destita menilai mahasiswa UT memiliki keuntungan karena jejaringnya tidak hanya berada di dalam negeri, tetapi juga terhubung dengan mahasiswa dan jaringan UT di berbagai negara. Jejaring tersebut dapat dimanfaatkan untuk menambah pengalaman, wawasan, serta kemampuan berkomunikasi dengan berbagai latar belakang.

Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga motivasi dengan selalu mengingat tujuan awal kuliah. Bergabung dalam komunitas belajar, meminta dukungan keluarga dan orang-orang terdekat, serta mampu mengelola stres menjadi bagian penting agar mahasiswa tetap konsisten menyelesaikan pendidikan.

“Jangan menyerah, jangan biarkan orang meremehkan kita. Kembali kepada niat kita dan jadikan niat itu supaya kita bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain,” kata Destita.

Destita berharap mahasiswa baru UT Bengkulu tidak hanya mengejar gelar akademik, tetapi juga membangun karakter, kemampuan, jejaring, dan pengalaman sebagai bekal menghadapi dunia kerja serta kehidupan bermasyarakat.

Sementara itu, Direktur UT Bengkulu Anton Robiansyah, S.E., M.Ak., CertIPSAS, mengatakan UT Bengkulu menyambut sekitar 2.500 mahasiswa baru yang tersebar di berbagai program studi. Sistem pendidikan jarak jauh yang diterapkan UT menjadi salah satu daya tarik karena memberikan fleksibilitas kepada masyarakat untuk menempuh pendidikan tinggi.

“UT saat ini adalah salah satu perguruan tinggi yang menggunakan sistem pendidikan jarak jauh, yaitu fleksibilitas di mana saja dan kapan saja mahasiswa bisa untuk berkuliah, dan juga terbuka untuk semua,” kata Anton.

Menurut Anton, fleksibilitas tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat yang memiliki pekerjaan maupun aktivitas lain untuk tetap menempuh pendidikan tinggi. Namun, kemudahan sistem pembelajaran tetap harus diimbangi dengan kedisiplinan dan komitmen mahasiswa menjalani seluruh proses akademik.

Anton menjelaskan mahasiswa UT tetap mengikuti proses perkuliahan dan evaluasi akademik sebagaimana perguruan tinggi pada umumnya. Tahapan tersebut mencakup kegiatan pembelajaran, ujian akhir semester, serta proses akademik lainnya hingga mahasiswa menyelesaikan studi dan memperoleh gelar.

Ia berpesan kepada mahasiswa baru agar menyelesaikan pendidikan setelah memutuskan kuliah di UT. Menurutnya, cita-cita menjadi sarjana harus diikuti konsistensi dan kesungguhan selama menjalani proses perkuliahan.

“Apa yang sudah dimulai harus diselesaikan, karena sudah bercita-cita mendaftar di UT dan harus menjadi sarjana di UT,” ujar Anton.

Anton berharap mahasiswa baru mengikuti seluruh proses pembelajaran dengan baik dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia. Ia juga mendorong mahasiswa membangun jejaring selama menempuh pendidikan sebagai bagian dari bekal menghadapi dunia kerja.

Ia mengatakan UT memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperoleh pendidikan tinggi dengan sistem yang menyesuaikan kebutuhan mahasiswa. Karena itu, mahasiswa baru diharapkan menjadikan OSMB sebagai awal membangun komitmen untuk belajar dan menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar.

Tags

Terkini