Tiga Bulan Pascapenggusuran, Pedagang Pantai Panjang Masih Menanti Solusi Pemerintah

Kamis, 16 Juli 2026 | 20:36:27 WIB
Sejak pembongkaran dilakukan sekitar tiga bulan lalu, omzet penjualan menurun drastis dan banyak pedagang kehilangan tempat usaha.

IKOBENGKULU – Penggusuran lapak pedagang di kawasan wisata Pantai Panjang Bengkulu membawa dampak besar terhadap kondisi ekonomi para pedagang. Sejak pembongkaran dilakukan sekitar tiga bulan lalu, omzet penjualan menurun drastis dan banyak pedagang kehilangan tempat usaha. Mereka berharap pemerintah segera memberikan solusi agar aktivitas berdagang dapat kembali berjalan normal.

Salah seorang pedagang, Anin (34), mengaku penggusuran membuat kondisi ekonomi keluarganya semakin sulit. Menurutnya, selama tiga bulan terakhir pendapatan yang diperoleh tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski demikian, ia mengatakan para pedagang tetap mengikuti arahan pemerintah dengan membongkar lapak secara sukarela tanpa melakukan perlawanan.

"Saat disuruh bongkar, kami bongkar. Kami bersihkan, bahkan kami bakar sendiri sisa-sisa bangunannya. Kami mengikuti aturan. Harapan kami semoga secepatnya ada solusi supaya penjualan bisa kembali normal," ujar Anin saat diwawancari pada Kamis (16/7/26).

Anin menjelaskan, sebelum penggusuran terdapat sekitar 13 lapak lapak saung miliknya. Kini hanya tersisa 3 saung yang masih berjualan. Berkurangnya jumlah pedagang membuat kawasan menjadi jauh lebih sepi dan berdampak langsung pada penjualan.

Ia juga mengungkapkan bahwa sebelum penggusuran, omzet penjualannya pada akhir pekan dapat mencapai sekitar Rp1 juta per hari. Namun setelah lapak dibongkar, pendapatannya turun drastis hingga hanya sekitar Rp200 ribu pada akhir pekan. Menurutnya, jumlah tersebut sangat sulit untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Selain mengalami penurunan pendapatan, para pedagang juga mengaku khawatir dengan rencana pembangunan saung yang disebut hanya berjumlah 10 saung melalui dukungan sponsor Bank Bengkulu. Padahal, jumlah pedagang yang membutuhkan tempat usaha lebih banyak.

"Katanya saung yang dibangun sponsor Bank Bengkulu cuma 10 saung. Bayangkan saja, bagaimana kami mencari makan kalau tidak semua pedagang mendapatkan tempat," katanya.

Keluhan serupa disampaikan Yanti (38). Ia menegaskan bahwa para pedagang tidak menolak penataan kawasan Pantai Panjang apabila bertujuan memperindah kawasan wisata. Namun, menurutnya, cara pelaksanaan penggusuran menjadi persoalan utama karena dilakukan menggunakan alat berat berupa ekskavator yang dinilai terlalu arogan dan membuat pedagang merasa tidak dihargai.

"Kalau untuk penataan saya tidak masalah, karena itu untuk kemajuan bersama. Tapi cara penggusurannya kemarin memakai ekskavator, itu menurut kami sangat arogan. Itu yang kami minta dipertanggungjawabkan," ujarnya.

Yanti berharap pemerintah segera memberikan kepastian dan solusi bagi seluruh pedagang yang terdampak penggusuran. Ia menginginkan adanya tempat usaha yang layak sehingga pedagang dapat kembali mencari nafkah dengan tenang.

"Harapan saya semoga cepat ada solusi dari masalah ini. Kami ingin hidup damai dan mencari rezeki dengan tenang. Yang penting kenyamanan untuk kita bersama," tutupnya.

Penulis : Yeyen

Terkini