Pedagang Thrift Tetap Bertahan di Tengah Persaingan Pasar Modern

Minggu, 05 Juli 2026 | 09:43:00 WIB
Selain menawarkan harga yang lebih terjangkau, pakaian bekas impor juga diminati karena memiliki model yang beragam.

IKOBENGKULU – Pakaian thrift masih menjadi salah satu pilihan masyarakat di Kota Bengkulu. Selain menawarkan harga yang lebih terjangkau, pakaian bekas impor juga diminati karena memiliki model yang beragam. Hal itu membuat lapak thrift tetap ramai dikunjungi, terutama oleh kalangan anak muda.

Salah seorang pedagang thrift di Bengkulu, Jumaidi (50), mengatakan dirinya telah menekuni usaha tersebut selama kurang lebih 20 tahun. Menurutnya, pembeli yang datang tidak hanya anak muda, tetapi juga orang tua, mahasiswa, dosen hingga pejabat.

"Pembelinya dari berbagai kalangan, ada orang tua, anak muda, mahasiswa, dosen, bahkan pejabat," kata Jumaidi saat ditemui, Jum'at (3/7/2026).

Meski begitu, ia mengaku penjualan pada awal bulan justru cenderung menurun, meski tokonya masih sering ramai. Barang yang paling banyak dicari pembeli di antaranya kaos, celana jeans, kaos bola, dan jogger.

Omzet penjualannya pun tidak menentu. Dalam sehari ia bisa memperoleh sekitar Rp500 ribu, namun ada kalanya tidak mendapatkan penjualan sama sekali. Untuk memenuhi stok, ia mendatangkan bal pakaian dari Palembang dan Bandung dengan harga yang bervariasi sesuai jenis barang.

Jumaidi juga mengaku sempat terdampak ketika pasokan bal pakaian mengalami kendala di tingkat pemasok. Kondisi tersebut membuat harga bal naik, meski harga jual di tokonya tetap diupayakan stabil.

"Kalau mau lapak tetap ramai, barang harus lengkap dan yang sering dicari pembeli harus selalu tersedia," ujarnya.

Hal serupa disampaikan pedagang thrift lainnya, Rika (25), yang telah berjualan sekitar dua tahun. Menurutnya, penjualan pada awal bulan biasanya meningkat, meski jumlahnya tidak menentu. Sebagian besar pembelinya berasal dari kalangan mahasiswa dengan barang yang paling banyak dicari berupa jaket, vest, dan cardigan.

"Siasat agar toko ramai terus ya harus sering buka bal baru. Lalu barang yang lama diobral supaya pembeli tetap datang," ungkapnya.

Ia mengatakan harga pakaian di tokonya berkisar Rp10 ribu hingga Rp150 ribu. Dalam sehari omzet yang diperoleh bisa mencapai Rp1 juta, namun terkadang hanya sekitar Rp700 ribu atau bahkan di bawah itu.

Di sisi lain, salah seorang pembeli, Ririn (20), mengaku lebih tertarik membeli pakaian thrift dibandingkan pakaian baru. Menurutnya, selain lebih murah, pakaian thrift memiliki model yang unik dan sesuai dengan selera anak muda.

"Kalau pintar nyari, kita bisa dapat barang bagus dengan harga murah. Banyak juga yang modelnya enggak kalah sama baju baru," ujarnya.

Ririn biasanya menyiapkan budget sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu saat berburu thrift. Ia juga menilai tren thrift membuat semakin banyak anak muda datang ke pasar. Agar mendapatkan barang berkualitas dengan harga terjangkau, ia menyarankan pembeli untuk sabar memilih, pandai menawar, serta langsung mencuci pakaian setelah dibeli.

Penulis: Fiza Pratisya Zuinara

Tags

Terkini