IKOBENGKULU - Aktivitas jual beli di Tempat Penjualan Ikan (TPI) masih berlangsung normal dengan pasokan ikan yang cukup. Kondisi cuaca yang relatif stabil dalam beberapa waktu terakhir turut mendukung hasil tangkapan nelayan sehingga ketersediaan ikan di TPI tetap terjaga. Meski demikian, cuaca tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi jumlah hasil tangkapan dan harga ikan di pasar.
Salah seorang nelayan, Dodi (35), mengatakan aktivitas melaut biasanya dimulai pada malam hari. Setelah kembali ke darat, hasil tangkapan tidak langsung dijual kepada masyarakat, melainkan melalui pemilik kapal dan agen ikan sebelum diteruskan kepada para pedagang di TPI.
"Kalau cuaca bagus, hasil tangkapan lumayan, ikannya juga banyak. Kendala kami biasanya badai, tapi tetap harus melaut karena ini mata pencaharian kami," ujarnya.
Menurut Dodi, cuaca yang stabil membuat hasil tangkapan lebih melimpah dibanding saat kondisi laut sedang buruk. Meskipun demikian, para nelayan tetap harus menghadapi berbagai risiko saat melaut, terutama ketika cuaca berubah secara tiba-tiba. Ia berharap setiap nelayan memiliki kapal sendiri agar aktivitas melaut dapat dilakukan dengan lebih leluasa dan hasil yang diperoleh dapat meningkatkan kesejahteraan.
Di sisi lain, aktivitas perdagangan ikan di TPI juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Pedagang memperoleh pasokan ikan langsung dari hasil tangkapan nelayan yang dibawa ke TPI. Berbagai jenis ikan dijual di lokasi tersebut, di antaranya dencis, sterling, tongkol, tuna, cumi-cumi, kepiting, udang, hiu, dan pari. Dari berbagai jenis tersebut, tongkol, tuna, dan dencis menjadi ikan yang paling banyak diminati oleh pembeli.
Pedagang ikan, Masdi (45), menjelaskan bahwa jumlah stok ikan yang masuk akan meningkat ketika cuaca mendukung aktivitas nelayan. Sebaliknya, cuaca buruk menyebabkan hasil tangkapan berkurang sehingga berdampak pada kenaikan harga ikan.
"Kalau tidak ada badai, stok ikan yang masuk banyak. Tapi kalau cuaca tidak memungkinkan, tangkapan nelayan berkurang dan harga ikan ikut naik," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa harga ikan saat ini relatif stabil. Namun, jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, terjadi kenaikan yang cukup signifikan. Sebagai contoh, harga ikan dencis yang pada 2010 masih berkisar Rp8.000 per kilogram, kini telah mencapai sekitar Rp32.000 per kilogram.
Selain menghadapi perubahan harga, pedagang juga dihadapkan pada tantangan lain, seperti keterbatasan modal dan risiko kerugian ketika ikan tidak habis terjual. Karena ikan merupakan sesuatu yang mudah rusak, sisa ikan yang tidak laku dalam jumlah banyak sering kali tidak dapat dipertahankan kualitasnya.
"Tantangan kami itu modal dan kondisi penjualan. Kalau sedang sepi dan ikan banyak yang tidak laku, tentu bisa rugi karena tidak semua ikan bisa bertahan lama," ungkapnya.
Baik nelayan maupun pedagang berharap adanya dukungan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk menunjang aktivitas perikanan.
Menurut mereka, kelancaran distribusi bahan bakar minyak (BBM) bagi nelayan menjadi salah satu kebutuhan penting agar kegiatan melaut dapat terus berjalan dan pasokan ikan di TPI tetap terjaga.
Melalui kerja sama antara nelayan, pedagang, dan pemerintah, diharapkan aktivitas perikanan dapat terus berkembang sehingga mampu menjaga ketersediaan ikan bagi masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha perikanan.
Penulis: Fiza Pratisya Zuinara (Magang UINFAS)