Edukasi Publik Tahun 2026: Kepala DPPKBP3A Kepahiang Bedah 7 Faktor Utama Penyebab Stunting yang Wajib Dicegah

Selasa, 24 Maret 2026 | 12:00:00 WIB
Kepala DPPKBP3A Kabupaten Kepahiang, Linda Rospita, MH

KEPAHIANG, BENGKULU – Dalam upaya akselerasi menuju target zero stunting di tahun 2026, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Kepahiang menggencarkan edukasi preventif kepada masyarakat. Langkah ini dilakukan dengan memetakan secara detail 7 faktor utama pemicu stunting agar orang tua dapat melakukan pencegahan sejak masa kehamilan.

Stunting sendiri merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang ditandai dengan tinggi badan di bawah standar, akibat akumulasi kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang.

Kepala DPPKBP3A Kabupaten Kepahiang, Linda Rospita, MH, menegaskan bahwa akar masalah stunting didominasi oleh malnutrisi atau defisit asupan gizi dalam jangka panjang yang sering kali tidak disadari sejak janin berada di dalam kandungan.

"Kondisi ini dipicu oleh kurangnya pemenuhan nutrisi ibu selama masa kehamilan. Dampaknya berlanjut jika kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi secara optimal pada masa golden age tumbuh kembangnya," jelas Linda Rospita dalam keterangannya, Selasa (9/6).

Secara teoretis dan praktis di lapangan, Linda membedah 7 faktor risiko utama penyebab stunting yang wajib diantisipasi oleh keluarga di Kabupaten Kepahiang:

Krisis Keragaman Pangan: Rendahnya akses terhadap makanan bergizi, minimnya asupan vitamin dan mineral, serta buruknya keragaman pangan, khususnya sumber protein hewani.

Siklus Malnutrisi Ibu: Kondisi kesehatan ibu yang kekurangan nutrisi sejak masa remaja, masa kehamilan, hingga fase laktasi (menyusui) yang berdampak fatal pada pertumbuhan fisik dan otak anak.

Buruknya Infrastruktur Sanitasi: Rendahnya akses terhadap air bersih, layanan kesehatan yang terbatas, serta lingkungan sanitasi yang tidak layak.

Minimnya Stimulasi: Kurangnya stimulasi psikososial atau pola interaksi asuh yang merangsang perkembangan mental dan motorik anak.

Faktor Sosio-Ekonomi & Pola Asuh: Dipengaruhi secara linier oleh faktor pekerjaan orang tua, pendapatan keluarga, jumlah anggota rumah tangga, tinggi badan genetik orang tua, serta kedisiplinan pemberian ASI Eksklusif.

Faktor Penyakit Bawaan: Kondisi medis bawaan pada anak sejak lahir, seperti Penyakit Jantung Bawaan (PJB) dan Thalasemia.

Infeksi Kronis dan Kelalaian Imunisasi: Kebersihan personal dan lingkungan yang buruk yang memicu penyakit kronis (seperti diare kronis), serta paparan penyakit yang seharusnya dapat dicegah melalui imunisasi wajib (TBC, difteri, pertusis, dan campak).

"Ketujuh faktor ini merupakan pilar utama penyebab stunting. Selain menjaga higienitas lingkungan, intervensi asupan gizi yang seimbang dan kaya protein hewani adalah kunci mutlak yang tidak bisa ditawar," tambah Linda.

Melalui rilis edukasi di tahun 2026 ini, DPPKBP3A mengimbau seluruh calon orang tua dan pasangan muda di Kepahiang untuk lebih proaktif dalam memantau kesehatan replikasi keluarga mereka.

"Mari bersama-sama kita cegah stunting sejak dini. Pastikan ibu hamil rutin melakukan cek kandungan, pantau kurva pertumbuhan anak secara berkala di Posyandu, penuhi imunisasi dasar lengkap, dan pastikan anak-anak kita mendapatkan asupan gizi seimbang demi masa depan Kepahiang yang lebih baik," pungkas Linda.(adv)

Terkini