BENGKULU – Derasnya arus digitalisasi telah membawa perubahan besar dalam pola penyebaran informasi di tengah masyarakat. Informasi kini bergerak sangat cepat, menembus batas ruang dan waktu. Namun, di balik kemudahan itu, muncul tantangan serius berupa maraknya hoaks dan informasi yang belum terverifikasi.
Isu tersebut menjadi sorotan utama dalam pengukuhan Pengurus Daerah Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Bengkulu periode 2025–2030 yang berlangsung di Mercure Bengkulu, Senin (27/4/2026).
Mewakili Gubernur Bengkulu, Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, Nandar Munadi, menegaskan bahwa keberadaan JMSI memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas serta kredibilitas informasi publik.
Menurutnya, di tengah persaingan kecepatan dunia media daring, prinsip kebenaran harus tetap menjadi prioritas utama.
“Kecepatan memang penting, tetapi akurasi dan kebenaran jauh lebih utama. JMSI harus menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah jurnalistik,” ujar Nandar.
Media Siber Harus Pegang Teguh Etika Jurnalistik
Nandar menilai media siber wajib berpegang pada kode etik jurnalistik sebagai fondasi dalam menjalankan tugas. Di era banjir informasi, media dituntut tidak hanya cepat, tetapi juga bertanggung jawab.
Ia juga menekankan pentingnya peran media dalam mendukung berbagai program strategis Pemerintah Provinsi Bengkulu, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga penguatan ekonomi berbasis masyarakat.
Dalam konteks tersebut, media diharapkan mampu menghadirkan informasi yang objektif, berimbang, dan edukatif kepada publik.
Selain itu, ia menilai kritik konstruktif dari media sangat diperlukan sebagai bahan evaluasi pemerintah.
“Kritik berbasis data dan fakta adalah bagian penting dari proses perbaikan pelayanan publik,” tambahnya.
JMSI Diminta Jadi Penjernih Informasi
Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia, Teguh Santoso, menyoroti perubahan besar dalam industri media yang kini bergerak dari platform konvensional ke digital.
Menurutnya, media siber saat ini tidak hanya berfungsi sebagai penyampai berita, tetapi juga sebagai kurator, verifikator, sekaligus penjaga nalar publik.
“Media hari ini harus mampu memilah, memverifikasi, dan memastikan informasi yang disampaikan benar. Kita juga bertanggung jawab menjaga akal sehat publik,” tegas Teguh.
Ia menilai, di tengah derasnya arus informasi, media memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi penjernih sekaligus benteng terhadap narasi yang berpotensi memecah belah persatuan.
Dedi Hardiansyah Putra Pimpin JMSI Bengkulu
Dalam kesempatan itu, Teguh Santoso secara resmi mengukuhkan jajaran pengurus JMSI Provinsi Bengkulu periode 2025–2030.
Dedi Hardiansyah Putra dipercaya memimpin organisasi tersebut sebagai ketua.
Momentum pengukuhan ini juga mendapat perhatian dari Kepala Kantor Wilayah Kementerian HAM Bengkulu, Hendry Marulitua.
Ia menilai pengukuhan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan langkah awal untuk membangun ekosistem media siber yang sehat, profesional, dan bertanggung jawab di Bengkulu.
“Ini adalah titik awal untuk memperkuat ruang informasi yang berkualitas bagi masyarakat,” ujarnya.
Susunan Pengurus JMSI Bengkulu 2025–2030
Ketua: Dedi Hardiansyah Putra
Wakil Ketua: Mahmud Yunus
Sekretaris: Ong Wie Hocky S
Wakil Sekretaris: Wizon Paidi
Bendahara: Agus Ansori
Wakil Bendahara: Oki Purnawan
Dengan terbentuknya kepengurusan baru, JMSI Bengkulu diharapkan menjadi wadah solid bagi perusahaan media siber sekaligus berkontribusi aktif dalam pembangunan daerah melalui informasi yang akurat, berimbang, dan terpercaya.