Tekan Harga Pasar, Pemkot Bengkulu Jual Lele Konsumsi Rp20 Ribu dan Bibit Unggul di BBI

Senin, 23 Maret 2026 | 12:00:00 WIB
Petugas Balai Benih Ikan (BBI) Kota Bengkulu saat melayani pembelian lele konsumsi oleh warga. Pemkot Bengkulu mematok harga Rp20 ribu per kilogram guna menyediakan protein murah dan menekan inflasi pangan di tingkat daerah

BENGKULU – Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) melakukan langkah nyata dalam menjaga stabilitas pangan dan daya beli masyarakat. Mulai hari ini, warga dapat memperoleh ikan lele konsumsi dengan harga di bawah pasar, serta bibit unggul untuk usaha mandiri langsung di Balai Benih Ikan (BBI).

Intervensi Harga: Protein Murah untuk Warga

Pusat penjualan yang berlokasi di BBI Jalan Citandui ini menjadi jawaban atas kebutuhan protein hewani yang terjangkau. Kepala DKP Kota Bengkulu, Will Hopi, menegaskan bahwa harga yang dipatok merupakan bentuk pelayanan publik, bukan semata-mata mencari keuntungan.

“Kami banderol lele konsumsi di Balai Benih Ikan ini seharga Rp20 ribu per kilogram. Harga ini kami pastikan lebih miring dibandingkan harga di pasar tradisional saat ini. Warga silakan datang langsung ke lokasi untuk membeli,” ungkap Will Hopi, 

Kepala DKP Kota Bengkulu, Will Hopi,

Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat Bibit Murah

Tak hanya menyasar konsumen rumah tangga, DKP juga membuka pintu bagi para calon wirausaha baru. BBI menyediakan bibit lele berkualitas dengan harga subsidi guna memacu geliat perikanan budidaya di tingkat kelurahan.

“Bagi warga yang ingin mulai belajar budidaya atau menambah stok kolamnya, kami sediakan bibit lele kualitas unggul. Harganya tentu jauh lebih terjangkau dibanding pasaran. Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga produktif sebagai pembudidaya,” tambahnya.

Strategi Ketahanan Pangan Keluarga

Program ini merupakan bagian dari visi besar Pemkot Bengkulu untuk memperkuat ketahanan pangan dari level terkecil, yaitu keluarga. Dengan harga input (bibit) yang murah, diharapkan muncul banyak unit budidaya mandiri di rumah-rumah warga, sehingga kebutuhan gizi dan ekonomi keluarga dapat terpenuhi secara sinkron.

“Ujung dari program ini adalah peningkatan gizi masyarakat dan tumbuhnya ekonomi kreatif di sektor perikanan. Jika setiap rumah punya kemandirian pangan, maka ekonomi kota secara keseluruhan akan lebih tangguh,” pungkas Will Hopi. (adv)

Terkini