Ketidakpastian Geopolitik Membayang, Pertumbuhan Ekonomi Dunia 2026 Terkoreksi

Kamis, 09 April 2026 | 18:44:29 WIB
M. Irfan Octama, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu (Pegang mic)

JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah mulai memberikan tekanan nyata terhadap stabilitas ekonomi global.

Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya pemburukan prospek ekonomi dunia yang dipicu oleh lonjakan harga komoditas dan gangguan rantai pasok global yang berkepanjangan.

Kondisi tersebut memaksa dilakukannya koreksi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 menjadi 3,1 persen, turun dari perkiraan sebelumnya di level 3,2 persen. 
Koreksi ini tetap terjadi di tengah dinamika kebijakan perdagangan global, termasuk upaya penurunan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, M. Irfan Octama, dalam Sarasehan Perekonomian Bengkulu, Kamis (09/04/2026) di Hotel Santia Bengkulu, menjelaskan bahwa perang di Timur Tengah telah memperburuk kondisi dan prospek perekonomian secara menyeluruh.

"Lonjakan harga minyak berdampak langsung pada rantai pasok perdagangan antarnegara, yang kemudian meningkatkan risiko inflasi global," ujarnya.

Aset Aman Menjadi Pilihan

Ketidakpastian pasar keuangan global memicu volatilitas tajam pada komoditas utama. Harga minyak yang terus merangkak naik memberikan tekanan pada biaya produksi dan transportasi global.

Kondisi ini memaksa pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan modal.

Investor mulai beralih ke aset aman (safe haven) untuk memitigasi risiko. Hal ini tercermin dari harga emas yang mencatatkan rekor tertinggi baru di kisaran 5.079 dollar AS per troy ons pada Maret 2026.

Menurut laporan BI, tren ini sejalan dengan meningkatnya Indeks Ketidakpastian Pasar Keuangan Global sejak awal tahun.

Dinamika Regional

Berdasarkan data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), Tiongkok diproyeksikan mengalami perlambatan dari 5,0 persen menjadi 4,4 persen pada 2026.

Sebaliknya, India diprediksi masih mencatatkan pertumbuhan tertinggi di level 6,7 persen, meski sedikit melambat dibandingkan tahun sebelumnya.

Kawasan ASEAN-5 diperkirakan tumbuh moderat di angka 4,2 persen, mencerminkan daya tahan kawasan di tengah guncangan global. ***

Terkini