Bengkulu - Kasus dugaan kekerasan antar pelajar kembali menjadi sorotan publik setelah video insiden yang melibatkan siswi di SMA Negeri 1 Kota Bengkulu viral di media sosial. Dalam peristiwa tersebut, seorang siswi kelas X berinisial AA diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah kakak kelasnya.
Akibat kejadian itu, korban dilaporkan mengalami luka lebam di beberapa bagian tubuh serta tekanan psikologis yang cukup berat. Kondisinya sempat memburuk hingga harus menjalani perawatan medis di rumah sakit sebanyak dua kali setelah kejadian.
Peristiwa dugaan pengeroyokan tersebut disebut terjadi di lingkungan sekolah pada Rabu (5/2/2026). Pihak keluarga menyebut dampak yang dialami korban tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Demi menjaga rasa aman selama masa pemulihan, rumah korban kini mendapat penjagaan pada malam hari oleh personel Satpol PP.
Penjelasan Psikolog: Kekerasan Pelajar Tidak Terjadi Tiba-Tiba
Psikolog Klinis RSJKO Soeprapto Provinsi Bengkulu sekaligus Ketua Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK) Wilayah Bengkulu, Wendri Surya Pratama, M.Psi., menjelaskan bahwa kekerasan antar pelajar umumnya tidak muncul secara mendadak. Perilaku agresif di sekolah biasanya merupakan hasil dari kombinasi beberapa faktor yang saling berkaitan.
Menurutnya, kondisi emosional remaja yang belum stabil menjadi salah satu pemicu utama. Pada fase ini, kemampuan mengelola emosi dan menyelesaikan konflik belum berkembang sempurna. Masalah pertemanan yang tampak sepele bagi orang dewasa bisa dirasakan sangat besar oleh remaja, terutama jika menyentuh harga diri dan penerimaan sosial.
Media Sosial Mempercepat Konflik
Media sosial juga berperan besar dalam mempercepat eskalasi konflik di kalangan pelajar. Komunikasi digital yang minim ekspresi dan intonasi kerap menimbulkan salah tafsir. Pesan singkat atau komentar dapat dianggap sebagai hinaan, sehingga memicu pertengkaran yang berlanjut ke dunia nyata.
“Interaksi online sering memperbesar konflik karena tidak ada kontrol emosi dan konteks komunikasi yang utuh,” jelas Wendri.
Budaya Senioritas dan Tekanan Kelompok
Faktor lain yang turut memicu kekerasan adalah budaya senioritas yang tidak sehat. Perbedaan tingkat kelas atau status kelompok kadang melahirkan rasa dominasi. Dalam situasi tertentu, siswa yang merasa lebih kuat atau lebih senior dapat bertindak menekan pihak yang dianggap lebih lemah.
Selain itu, tekanan kelompok (peer pressure) juga sering menjadi pemantik. Tindakan agresif kerap terjadi secara beramai-ramai karena individu terdorong mengikuti perilaku kelompok. Dalam kondisi ini, empati bisa menurun dan tindakan salah terasa seolah mendapat pembenaran karena dilakukan bersama.
Saksi Memilih Diam, Penanganan Terlambat
Wendri juga menyoroti fenomena saksi yang enggan melapor atau melerai. Banyak pelajar memilih diam karena takut menjadi sasaran berikutnya. Situasi ini membuat korban merasa sendirian dan tidak terlindungi saat kejadian berlangsung.
Penanganan yang lambat dari lingkungan sekitar, termasuk pihak dewasa, dapat memperparah dampak. Respons yang tidak cepat membuat konflik berlarut dan trauma korban semakin dalam.
Sekolah Harus Jadi Ruang Aman
Ia menegaskan bahwa kasus kekerasan antar pelajar tidak bisa dibebankan kepada korban semata. Biasanya terdapat gabungan faktor seperti emosi remaja yang belum matang, konflik yang meluas lewat media sosial, senioritas berlebihan, tekanan kelompok, serta lemahnya pengawasan.
Sekolah, kata dia, harus menjadi ruang aman bagi siswa untuk belajar dan berkembang. Karena itu, penguatan pengawasan, edukasi pengelolaan emosi, sistem pelaporan yang aman, serta pendampingan psikologis menjadi langkah penting untuk mencegah kekerasan di lingkungan pendidikan.