Mafindo dan STIKES Bhakti Husada Perkuat Literasi Digital: Tekankan Integritas dan Etika di Era AI

Mafindo dan STIKES Bhakti Husada Perkuat Literasi Digital: Tekankan Integritas dan Etika di Era AI
Ratusan mahasiswa STIKES Bhakti Husada Bengkulu tampak antusias mengikuti pelatihan AI Ready ASEAN, Sabtu (29/11/2025)

BENGKULU – Di tengah gelombang disrupsi teknologi yang semakin deras, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Wilayah Bengkulu kembali mengambil langkah strategis dalam penguatan literasi digital. Menggandeng Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Bhakti Husada Bengkulu, Mafindo menggelar program AI Ready ASEAN yang diikuti oleh 110 mahasiswa pada Sabtu (29/11/2025).

Program ini hadir bukan sekadar sebagai pelatihan teknis, melainkan membawa misi krusial: menanamkan pemahaman mendalam bahwa penggunaan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) harus berlandaskan etika dan tanggung jawab, terutama di lingkungan akademis.

 

AI Adalah Realitas Masa Kini

Koordinator Wilayah (Korwil) Mafindo Bengkulu, Dr. Gushevinalti, M.Si., menegaskan bahwa posisi Mafindo sebagai organisasi masyarakat sipil akan terus konsisten mengawal literasi digital di berbagai lapisan, mulai dari pelajar, lansia, hingga NGO.

Dalam sambutannya, Gushevinalti menekankan bahwa AI tidak lagi bisa dipandang sebagai teknologi masa depan, melainkan realitas yang harus dihadapi hari ini.

“Kegiatan hari ini murni bersifat edukasi. Kami membawa misi untuk menyadarkan peserta bahwa kecerdasan artifisial kini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. AI bukan lagi masa depan, tapi masa kini,” ujar Gushevinalti.

Trainer Mafindo Bengkulu Rafinita Adya tengah memaparkan materi tentang etika penggunaan Artificial Intelligence (AI) di hadapan mahasiswa STIKES Bhakti Husada, Sabtu (29/11/2025)./ foto; ist/

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa workshop ini memberikan nilai tambah yang signifikan. Selain dibekali materi penggunaan AI yang beretika oleh para trainer berpengalaman, para peserta juga berkesempatan mendapatkan sertifikat internasional dari ASEAN Foundation, dengan syarat menyelesaikan modul pembelajaran yang telah disiapkan.

Tantangan Integritas Akademik

Inisiatif Mafindo ini mendapat sambutan hangat dari pihak akademisi. Wakil Ketua 1 Bidang Akademik STIKES Bhakti Husada, Veby Fransisca Rozi, SKM, M.Kes., menilai literasi digital kini telah menjadi kompetensi wajib, tak terkecuali bagi mahasiswa rumpun kesehatan.

Ratusan mahasiswa STIKES Bhakti Husada Bengkulu tampak antusias mengikuti pelatihan AI Ready ASEAN, Sabtu (29/11/2025).

“Mahasiswa harus melek digital. Kecerdasan buatan adalah salah satu peluang dan potensi yang sangat besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Faktanya, bukan hanya mahasiswa, dosen pun kini menggunakan AI untuk menunjang aktivitas akademis,” ungkap Veby.

Namun, Veby memberikan catatan kritis yang tajam. Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan teknologi membawa "pedang bermata dua", khususnya terkait integritas akademik. Ia mengingatkan bahwa tanpa dasar etika yang kuat, penggunaan AI justru bisa menjadi kontraproduktif.

“Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menggunakan AI sesuai dengan etika. Karena itu, sangat penting bagi dosen dan mahasiswa untuk terus meningkatkan literasi digitalnya. Kami berharap peserta dapat berdiskusi aktif agar teknologi ini menjadi alat bantu yang produktif,” pungkasnya.

Kegiatan ini didukung oleh 20 relawan aktif Mafindo Bengkulu dan ditutup dengan penyerahan cinderamata sebagai simbol apresiasi kolaborasi antara kedua lembaga dalam mencerdaskan kehidupan bangsa di era digital. ***